Gen Z Dominasi Investor Reksa Dana

  • Bagikan
Yusri selaku Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Sumatera Utara (tiga kiri) foto bersama Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara Muhammad Pintor Nasution (tiga kanan ) dan pembicara lainnya pada acara bertajuk "Road to Pekan Reksa Dana" di Kantor OJK Provinsi Sumatera Utara Jalan Gatot Subroto Medan Selasa (14/4/2026) sore. beritasore.co.id/laswie wakid

MEDAN (beritasore.co.id): Jumlah investor Reksa Dana terus menunjukkan tren peningkatan, dimana berdasarkan data single investor identification (SID) dari KSEI hingga akhir tahun 2025 adalah sebanyak 19,2 juta SID, tumbuh sebesar 3,23 persen dari 18,6 juta SID di akhir tahun 2024.

Yang menarik dari jumlah investor tersebut didominasi investor muda yang berusia di bawah 30 tahun (gen Z), yang mencapai 54,24 persen dari total investor.

“Hal ini menunjukkan semakin banyak generasi muda Indonesia yang paham berinvestasi dan sudah memulainya
sejak usia muda,” kata Lolita Liliana, Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana & Investasi Indonesia (APRDI) kepada wartawan di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara Selasa (14)4/2026) sore.

Lolita berbicara pada acara bertajuk “Road to Pekan Reksa Dana” yang digelar APRDI bekerjasama dengan OJK Provinsi Sumatera Utara. Acara itu dibuka Yusri selaku Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Sumatera Utara.

Selain Lolita yang berbicara terkait Edukasi Reksa Dana, juga ada narasumber lainnya yakni Manajer Senior Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, Adynitra Ananta (materi: Edukasi PINTAR Reksa Dana). Team Leader PT Panin Asset Management, Clara Vlorentina (materi Inklusi Reksa Dana) dan Associate Director Sales Marketing PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Endang Cahyani (materi: Inklusi Reksa Dana).

Moderator Reza Leonhard selaku Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Provinsi Sumatera Utara. Acara itu juga dihadiri Kepala Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Sumatera Utara Muhammad Pintor Nasution dengan peserta wartawan yang meliput di OJK Provinsi Sumatera Utara.

Lolita mengatakan sehubungan perkembangan Reksa Dana yang didominasi usia gen Z, Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) yang mewadahi 6 asosiasi yang terkait di industri Reksa Dana dan pelaku pengelolaan investasi di Indonesia, bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) terus berupaya mendorong peningkatan literasi dan inklusi Reksa Dana kepada masyarakat.

Aset Under Management (AUM) atau dana kelolaan industri Reksa Dana di Indonesia pada akhir tahun 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 35,06 persen menjadi
sebesar Rp679,24 triliun jika dibandingkan akhir tahun 2024 sebesar Rp502,92 triliun.

Sedangkan secara total dana kelolaan
investasi mengalami kenaikan sebesar 25,19 persen dari Rp804,87 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp1.007,65 triliun pada akhir 2025.

“Dana kelolaan ini merupakan yang tertinggi setelah dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukan pertumbuhan yang stagnan,” kata Lolita.

Pertumbuhan AUM Reksa Dana yang paling tinggi di tahun 2025 adalah jenis Reksa Dana Pendapatan Tetap dilanjutkan dengan
jenis Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Teproteksi dan Reksa Dana Saham.

Sedangkan jenis Reksa Dana yang mengalami
penurunan adalah Reksa Dana Indeks. Hal ini menunjukkan profil investor Indonesia yang cenderung masih konservatif – moderat
dalam berinvestasi.

Adapun kinerja Reksa Dana tertinggi berdasarkan indeks Reksa Dana dari data Pasardana.id pada akhir tahun 2025 adalah Reksa Dana Saham sebesar 17,23 persen, Reksa Dana Campuran 12,48 persen lalu Reksa Dana Pendapatan Tetap sebesar 6,96 persen dan Reksa Dana Pasar Uang sebesar 3,18 persen.

Pencapaian kinerja Reksa Dana Saham ini sejalan dengan kinerja positif pasar saham Indonesia yang ditandai dengan pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun 2025 sebesar 22,13 persen.

Di tahun 2026, sinergi antara Asosiasi, OJK dan SRO untuk mendorong literasi serta inklusi Reksa Dana kepada masyarakat di
Indonesia ini diwujudkan melalui peluncuran program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026) yang
diawali dengan kegiatan Road to Pekan Reksa Dana 2026 di beberapa kota di Indonesia.

Dalam kegiatan Road to Pekan Reksa
Dana 2026 ini, APRDI dengan didukung oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengadakan roadshow di lima kota di Indonesia, yaitu Surabaya (7-8 April), Semarang (9-10 April), Medan (14-15 April), Makassar (16-17 April), dan Bandung (20-21 April). Ditambah lagi satu di Palembang

Kegiatan SOSEDU APRDI 2026 di Medan diawali dengan penyelenggaraan kelas edukasi investasi Reksa Dana bagi jurnalis yang berlangsung di Kantor OJK Provinsi Sumatera Utara. Selain itu itu, edukasi bagi mahasiswa juga dilaksanakan di sejumlah
perguruan tinggi di Sumatera Utara yang telah bekerja sama dengan Galeri Investasi BEI, yaitu Universitas Satya Terra Bhinneka,
Universitas Sumatera Utara, Universitas Pelita Harapan, Universitas Negeri Medan, dan STIE Bina Karya Tebing Tinggi.

Sebagai puncak rangkaian kegiatan SOSEDU APRDI 2026, pada tanggal 27 April 2026 akan diselenggarakan seremoni peluncuran program PINTAR Reksa Dana dan kampanye #ReksaDanaAja serta Pekan Reksa Dana 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Yusri selaku Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK
Provinsi Sumatera Utara menyampaikan bahwa Otoritas Jasa Keuangan terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi
investasi yang sehat di masyarakat, khususnya pada instrumen Reksa Dana.

Edukasi kepada berbagai segmen masyarakat,
menjadi langkah penting untuk memperkuat pemahaman publik terhadap produk keuangan yang legal serta meningkatkan kepercayaan terhadap industri pasar modal.

Yusri menyebut dalam rangka mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, diperlukan upaya yang terstruktur, masif, dan berkelanjutan.

“Oleh karena itu, dalam kegiatan ini kami memperkenalkan Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana,” jelas Yusri.

Program yang disingkat PINTAR Reksa Dana ini sebagai salah satu inisiatif strategis untuk menjembatani potensi besar tersebut dengan realisasi partisipasi masyarakat yang lebih luas.

Melalui pendekatan investasi yang dilakukan secara terencana dan berkala, program ini
diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap produk Reksa Dana melalui berbagai medium, baik secara offline
maupun online.

“Sekaligus membangun kebiasaan investasi yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Yusri.

Ia menambahkan bahwa melalui program tersebut diharapkan seluruh lapisan masyarakat, baik mahasiswa, pekerja, maupun
ibu rumah tangga di berbagai wilayah, memiliki kesempatan yang setara untuk memulai dan mengembangkan perjalanan
investasinya secara bijak, terukur, dan berlandaskan pemahaman yang memadai.

Selain itu, Yusri juga mengingatkan masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai aktivitas keuangan ilegal yang masih marak terjadi, seperti investasi ilegal, pinjaman online ilegal, maupun praktik judi online yang dapat
menimbulkan kerugian finansial dan dampak sosial yang luas.

“Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu memastikan legalitas produk dan lembaga keuangan sebelum melakukan investasi atau memanfaatkan layanan keuangan,” ungkap Yusri.

Lolita Liliana kembali menambahkan pertumbuhan signifikan dana kelolaan Reksa Dana di tahun 2025 mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional.

Kinerja posibf ini, yang juga didukung oleh pertumbuhan investor – khususnya generasi muda – dan menjadi momentum penbng bagi industri untuk terus memperluas literasi dan inklusi.

“Melalui rangkaian SOSEDU APRDI 2026, kami ingin menyampaikan edukasi bagi jurnalis dan mahasiswa,” kata Lolita.

Selain itu, tambah Lolita, pihaknya juga mendorong partisipasi aktif para peserta melalui kompetisi kreatif, yaitu lomba penulisan artikel bagi jurnalis dan kompetisi pembuatan konten Instagram Reels untuk mahasiswa.

“Dengan pendekatan yang lebih akbf dan kreabf ini, kami ingin mendorong peningkatan pemahaman investasi Reksa Dana,
sehingga masyarakat dapat semakin menyadari penbngnya investasi yang terencana melalui reksa dana,” katanya.

Untuk kompetisi itu, Lolita menyebut APRDI telah menyiapkan hadiah menarik sejumlah total Rp55 juta sebagai hadiah dalam
kompetisi lomba penulisan artikel bagi wartawan dan lomba pembuatan Reels Instagram Reels bagi mahasiswa.

Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 17 Juni 2026 melalui akun Instagram @ReksaDanaAja. Seluruh karya yang
diikutsertakan dalam lomba, baik dari wartawan maupun mahasiswa, wajib dipublikasikan selama periode Pekan Reksa
Dana 2026 yang berlangsung pada tanggal 25 April hingga 1 Mei 2026.

Untuk mendorong pertumbuhan industri dan pengelolaan investasi Reksa Dana ke depannya, OJK telah membentuk bm
kerja (task force) bersama para pelaku untuk mendiskusikan segala hal terkait perkembangan industri Reksa Dana dan Pasar Modal Indonesia sesuai amanat UU P2SK.

Lolita menjelaskan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) adalah organisasi resmi yang berdiri sejak tahun 1999 dan menaungi seluruh pelaku industri Reksa Dana dan investasi di Indonesia. APRDI juga menjadi induk dari enam asosiasi pelaku pengelolaan investasi di Indonesia, yaitu:
• Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII)
• Asosiasi Bank Kustodian Indonesia (ABKI)
• Asosiasi Bank Agen Penjual Efek Reksa Dana Indonesia (ABAPERDI)
• APII : Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII)
• Perkumpulan Agen Penjual Efek Reksa Dana Online (PAPERDO)
• Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia (PWMII). (wie)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *