PUPR Berupaya Agar Petani Panyabungan Menanam Padi

  • Bagikan
Personel PUPR di aeral Irigasi Batang Gadis, Kec. Panyabungan, Kab. Madina.beritasore/Ist

PANYABUNGAN (Berita): Dinas Pekerjaaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mandailing Natal segera menangani masalah darurat irigasi Batang Gadis yang tidak bisa mengairi persawahan petani sawah.

Maklum saja, petani di berbagai desa di Kec. Panyabungan, Kab. Madina sudah beberapa tahun terakhir tidak bisa menanam padi akibat irigasi bermasalah.

Kepada wartawan, Sabtu (5/8), Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Madina Rizal Efendi, ST mengatakan, melalui beberapa proses tahapan prosedur, PUPR Madina mendapat izin penanganan siphon jaringan irigasi Batang Gadis yang rusak 15 meter melintasi Aek Pohon.

“Izin dari Balai Wilayah Sungai Sumatera II untuk perbaikan darurat sudah didapatkan dan proses perencanaan sudah selesai.

Insya Allah, dalam beberapa hari ke depan, PUPR mulai melaksnakan proses penanganan darurat perbaikan siphon jaringan irigasi Batang Gadis,” kata Rizal Efendi.

Ia menjelaskan, karena menyangkut hajat petani sawah, pemerintah terus berupaya ke WBS untuk mengambil tindakan darurat penanganan, sehingga petani di sejumlah desa di Kec. Panyabungan bisa kembali bersawah.

Kabid SDA Dinas PUPR Madina ini merinci, alokasi anggaran untuk perbaikan siphon jaringan irigasi Batang Gadis yang bermasalah mencapai Rp 345 juta.

“Anggarannya Rp 345 jutaan diambil dari pemeliharaan rutin bidang SDA Dinas PUPR Madina. Catatannya, ini penanganan sementara, karena jaringan irigasi ini sebenarnya wewenang dari¬† Balai Wilayah Sungai Sumatera II,” kata Rizal.

Dikatakan, beberapa hari ini akan mobilisasi alat berat ke lokasi untuk membongkar jaringan irigasi bermasalah sekaligus memperbaikinya.

“Setelah PUPR dapat izin melakukan perbaikan, segera kita harus eksekusi, agar petani dapat kembali menanam padi pada daerah terdampak” kata Rizal.

Informasi diperoleh, penanganan9 permanen untuk 2024 prioritas utama BWS untuk siphon Mandailing Natal meliputi wilayah Sihepeng, Hutapuli, Hutaraja, dan Simangambat karena tanggul Sungai Batang Angkola jebol mengakibatkan  4.000 hektar sawah berdampak. (irh)

 

Berikan Komentar
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *