Dampak Bencana, Inflasi Gunungsitoli Capai 10,84 Persen

  • Bagikan
Kepala BPS Sumut Asim Saputra berbicara kepada wartawan di kantornya Jalan Asrama Medan Senin (5/1/2026). beritasore.co.id/laswie wakid

MEDAN (beritasore.co.id): Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat
pada Desember 2025, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli yang menyentuh angka 10,84 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 119,24.

Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo sebesar 3,15 persen dengan IHK 111,20.

Kepala BPS Sumut Asim Saputra pada rilis statistik di Medan Senin (5/1/2026) mengatakan bencana yang menimpa sejumlah daerah ternyata memberikan dampak tingginya inflasi di beberapa daerah, termasuk yang tidak terkena bencana langsung seperti Kota Gunungsitoli.

Dampak bencana, memang mengalami hambatan distribusi terutama, seperti di daerah bencana Sibolga, Tapanuli Tengah dan Tapsel.

Bencana ini ternyata juga berdampak cukup besar pada kabupaten-kota di Kepulauan Nias. “Jadi Gunungsitoli mencatat inflasi sebesar di atas 10 persen,” kata Asim kepada wartawan.

Saat ini inflasi kita Sumatera Utara secara mtm 1,66 persen, dan secara year-on-year 4,66 persen. “Menurut saya di tengah situasi dampak bencana, inflasi ini relatif cukup terkendali terutama pada kota-kota kita seperti Medan sekitarnya,” jelas Asim.

Asim menyebut di Sumut hanya terganggu karena sulitnya pasokan di kota Sibolga saat itu sehingga terimbas besar ke Kota Gunungsitoli.

Kesigapan pemerintah, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, provinsi, kabupaten-kota, dalam penanganan bencana di Sumatera Utara terutama pada masa tanggap relatif sangat baik.

“Sudah bisa membuka akses, terutama beberapa daerah yang selama ini terisolir,” jelas Asim.

BPS Sumut mencatat Provinsi Sumatera Utara mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,66 persen pada Desember 2025. Angka ini dibarengi dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 112,25.

“Kondisi inflasi di wilayah Sumatera Utara menunjukkan variasi yang cukup signifikan antar wilayah pantauan,” jelas Asim.

​Menurut Asim, kenaikan inflasi tahunan ini dipicu oleh naiknya indeks harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang kenaikan tertinggi, disusul oleh sektor pangan.

Inflasi y-on-y ini didorong oleh kenaikan harga di berbagai sektor. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak hingga 14,83 persen, sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 8,44 persen.

​Selain itu, beberapa kelompok lain juga memberikan kontribusi terhadap inflasi, di antaranya: Kesehatan: naik 3,15 persen,
​Pendidikan: naik 2,82 persen, ​Penyediaan makanan dan minuman/restoran: naik 2,43 persen. Pakaian dan alas kaki: naik 1,57 persen.​Transportasi: naik 1,37 persen.

​Meskipun mayoritas mengalami kenaikan, Asim menyebutkan ada dua kelompok yang mengalami deflasi atau penurunan indeks.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun sebesar 0,28 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun tipis 0,02 persen.

BPS Sumut juga melaporkan tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada Desember 2025 berada di angka 1,66 persen. Sementara itu, tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) tercatat sama dengan angka tahunan yakni sebesar 4,66 persen.

​Asim menilai secara keseluruhan, pergerakan harga di akhir tahun ini dipengaruhi oleh pola konsumsi masyarakat dan fluktuasi harga di pasar yang tercermin dalam kenaikan IHK. (wie)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *