“Terjebak” Lockdown Di Malaysia Warga Agara Terancam Kelaparan

  • Bagikan
Ilustrasi
Ilustrasi

Kutacane (Berita): Ratusan warga Aceh Tenggara yang berusaha dan tercatat sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, dilaporkan terancam kelaparan,menyusul pemberlakukan status lockdown di negeri jiran tersebut.

Hamidin Selian yang terdaftar sebagai salah seorang TKI asal Aceh Tenggara di Malaysia kepada wartawan via WhatsApp mengatakan, paska pemberlakukan status lockdown di Malaysia 18 Maret lalu, untuk memutus mata rantai Covid-19, banyak warga asal Aceh Tenggara yang tak bisa bekerja dan hanya berdiam diri saja di rumah.

Bahkan, jika warga ditemukan berada di luar rumah saat status lockdown, maka akan ditangkap dan didenda polisi dan pemerintah Diraja Malaysia, dengan denda sebesar RM 1.000 atau Rp3.000.000 ditambah hukuman kurungan selama 4 hari.

Akibatnya, TKI asal Aceh Tenggara,terpaksa hanya berdiam diri di rumah tanpa bisa berbuat banyak.

Bahkan uang simpanan yang ada dipegang dan didapat selama ini pun, ludes dan tak tersisa lagi, sehingga banyak warga yang tercancam kelaparan.

Menurut Hamidin Selian, warga Aceh Tenggara asal Kute (desa) Terutung Pedi kecamatan Babussalam, yang mengaku telah bekerja sebagai TKI di Malaysia selama 7 tahun di Malaysia tersebut, sedikitnya terdapat 370 warga Asal Aceh Tenggara yang saat ini kondisinya terancam kelaparan akibat kehabisan stok uang dan pemberlakuan lockdown di Malaysia.

Agar warga asal Aceh Tenggara yang bekerja di negeri Jiran tak kelaparan dan tak mendapat kesulitan akibat pemberlakuan status lockdown di Malaysia, Hamidin bersama warga asal Agara lainnya berharap agar Pemkab Aceh Tenggara membantu warga yang terancam kelaparan tersebut.

“Saat ini, tercatat sebanyak 174 orang yang kondisinya sangat memprihatinkan karena tak memiliki persediaan lagi. Sebagian besar mereka tak memiliki pasport, permit kerja dan lokasi tempat kerja mereka juga sangat jauh dari bandara, sebab itu untuk meminta bantuan ke KBRI pun sulit karena mereka tak memiliki dokumen yang dibutuhkan. Jadi mereka hanya berharap belas kasihan dari majikan mereka saja,” ujar Hamidin.

Ke-370 orang warga asal Aceh Tenggara itu, tersebar atau menetap di beberapa daerah, antara lain di Pulau Baling, Bukit Raya Pendang, Ulu Malaka Langkawi, Merbok Kuala Muda, Bukit Pinang Kota Setar, Lunas Kuli Kedah dan daerah lain yang tersebar pada beberapa negara bagian, dengan profesi seperti kuli bangunan, perkebunan, pelayan di rumah makan dan di warung.

Wakil Bupati Aceh Tenggara, Bukhari kepada Waspada , Sabtu (18/4) membenarkan pihaknya telah menerima berita terkait kondisi warga asal Aceh Tenggara ( Agara) yang berkerja dan mencari nafkah di Malaysia.

“Khabar itu saya dapat dari laporan teman LSM dan rekan wartawan, katanya jumlahnya mencapai 370 orang. “Dan bukan langsung dari warga Aceh Tenggara yang mencari pekerjaan di Malaysia tersebut,” ujar Bukhari.

Pun demikian, Wabup berjanji bila telah menerima laporan yang akurat dari warga Aceh Tenggara yang masih terkurung di Malaysia tersebut serta data-data yang sebenarnya, pihaknya akan melaporkan hal tersebut pada Bupati Raidin Pinim dan melakukan rapat koordinasi terkait nasib warga asal Aceh Tenggara di Malaysia tersebut.

Kita ingin tahu, jumlah pasti warga Aceh Tenggara yang terdampak akibat pemberlakukan lockdown di Malaysia sebagai upaya pemerintah negeri jiran memutus mata rantai virus Corona.

Selain itu kita juga butuh data, di daerah mana saja warga asal Agara tersebut menetap di Malaysia.

Setelah data itu akurat, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah Aceh terkait kondisi maupun nasib warga kita yang ada di Malaysia yang disebut-sebut tengah mengalami kondisi sulit tersebut, seraya terus berupaya mencari cara agar bisa menyalurkan bantuan pada ratusan TKI dan TKW asal Aceh Tenggara tersebut.(b.26)

Berikan Komentar
  • Bagikan