JAKARTA (beritaaore.co.id): Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal memperkirakan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran akan menjadi konflik yang berkepanjangan.
“Ini akan menjadi konflik yang berkepanjangan, karena tujuan dari serangan militer kali ini bukan hanya untuk menghentikan kapasitas nuklir Iran, tapi untuk menumbangkan pemerintah di Teheran,” kata Dino dalam sebuah pernyataan di akun media sosialnya, Minggu (1/3).
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI pada masa Presiden Susilo Yudhoyono itu memperkirakan semua aksi militer, mobilisasi massa upaya agen Mossad di Iran, instrumen sosial, ekonomi, dan lainnya akan dikerahkan untuk menumbangkan pemerintah Iran, dan pada saat yang bersamaan pemerintah Iran juga tidak akan tinggal diam dan melawan intervensi luar tersebut.
Mengingat bahwa Iran berbeda dari Venezuela, karena memiliki jaringan politik dan militer yang cukup signifikan di beberapa wilayah, dapat dipastikan bahwa perang tersebut juga akan menyeret pihak-pihak luar, dan akan menyebabkan guncangan di luar wilayah Iran.
Dia menilai bahwa “aksi ugalan-ugalan” yang dilakukan oleh AS dan Israel dapat menjerumuskan dunia ke dalam kemungkinan perang dunia ketiga.
Dino menekankan bahwa Iran adalah pihak yang diserang oleh AS dan Israel, bukan sebaliknya. Dan bahwasanya perundingan antara AS dan Iran belum berhasil, hal itu tidak memberikan pembenaran bagi AS untuk melakukan serangan militer terhadap Iran.
Terlebih, Pemerintah Oman, yang selama ini menjadi mediator dalam perundingan damai antara keduanya, menyatakan sudah ada kemajuan yang signifikan dalam proses perundingan Amerika dan Iran.
Serangan militer terhadap Iran, katanya, menandakan suatu tren yang mengkhawatirkan di AS, bahwa segala perselisihan yang tidak sesuai kemauan Trump akan diselesaikan dengan cara perang atau kekerasan.
Menurut Dino, pendekatan seperti itu sangat berbahaya bagi stabilitas dan perdamaian internasional.
Kemudian, terkait pernyataan sikap Indonesia, di mana Presiden Prabowo menyatakan siap terbang ke Teheran untuk menjadi penengah politik, Dino menilai langkah itu akan tidak efektif karena Donald Trump tampaknya jarang sekali bersedia untuk dimediasi.
“Amerika Serikat itu jarang sekali mau ditengahi atau dimediasi oleh pihak ketiga karena Amerika, sebagai negara super power, terlalu tinggi untuk menerima itu,” katanya.
“Dan saya juga meyakini Presiden Trump kali ini tidak mau Indonesia ikut campur karena mood-nya pada saat ini sedang ‘gelap mata’ untuk menumbangkan pemerintah Iran,” katanya.
Alih-alih berupaya menjadi juru damai, Dino mengatakan bahwa Indonesia sebaiknya menegaskan posisi Indonesia secara jelas, tegas, dan lugas.
Kita harus berani menyatakan apa yang benar (katakan) benar, dan apa yang salah (katakan) salah, apapun risikonya.
Serangan Amerika dan Israel terhadap Iran bertentangan dengan segala prinsip yang disampaikan oleh Presiden Prabowo di sidang Majelis Umum BBB tahun lalu,” katanya.
Dan Indonesia, menurut dia, harus selalu konsisten menegakkan prinsip perdamaian dan norma-norma hukum internasional. (ant)














