Prof Dadan Menjaga Idealisme Di Tengah Perubahan

  • Bagikan
Prof Dr Dadan Ramdan, M.Eng., M.Sc.

PAGI itu, di balik jendela kaca ruang rektorat Universitas Medan Area (UMA), suasana terasa tenang meski dunia pendidikan tengah bergerak cepat mengikuti arus perubahan zaman.

Di balik ketenangan itu, berdiri sosok pemimpin yang dikenal sederhana namun penuh prinsip Prof Dr Dadan Ramdan, M.Eng., M.Sc. Dengan langkah mantap dan senyum bersahaja, ia menata arah kampus menuju masa depan yang lebih hijau, digital, dan manusiawi.

“Kalau tidak sehat, mana mungkin bisa berpikir jernih,” ujarnya santai, seolah mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati berawal dari keseimbangan diri.

Lahir di Bandung pada 5 Februari 1964, Prof Dadan menempuh perjalanan panjang sebelum akhirnya dipercaya memimpin Universitas Medan Area.

Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, berintegritas, dan menjadikan pendidikan sebagai bentuk pengabdian. Kariernya dimulai tahun 1991 sebagai dosen di Fakultas Teknik UMA.

Dari situ, langkahnya terus menanjak menjadi kepala laboratorium digital control, kemudian Pembantu Dekan III, hingga dua kali menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik.

Ia juga sempat dipercaya memimpin lembaga penjaminan mutu sebelum akhirnya diangkat menjadi Rektor UMA pada tahun 2018 dan terus melanjutkan kepemimpinannya hingga kini.

Setiap posisi yang pernah dijalani menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Ketika ditanya peran mana yang paling berkesan, Prof Dadan menjawab tanpa ragu, “Menjadi dosen adalah masa paling berharga.

Di situ saya belajar memahami mahasiswa, membimbing dengan hati, dan melihat perubahan kecil yang berarti. Itu pengalaman yang membentuk saya sampai hari ini,” ujarnya.

Pengalaman itu menumbuhkan keyakinannya bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mengajar, tetapi juga menyentuh kehidupan orang lain.

Sebagai seorang rektor, Prof Dadan percaya bahwa memimpin berarti terus belajar. Dunia pendidikan tinggi kini bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan zaman, namun baginya perubahan itu tidak boleh membuat manusia kehilangan arah.

Ia memperkenalkan visi besar green digital university, sustainable campus, sebuah gagasan untuk menjadikan UMA sebagai kampus modern, ramah lingkungan, dan berdaya saing global.

Melalui program outcome-based education dan gerakan Kampus Sehat, Prof Dadan berusaha membangun sistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan peduli terhadap lingkungan.

Dalam wawancara, ia juga menyinggung tantangan pribadi dalam menghadapi cepatnya perubahan zaman. Ia mengaku menjaga kesehatan adalah kunci agar tetap fokus dan mampu berpikir jernih.

“Bapak ini sudah tidak muda lagi, tapi bukan berarti tua. Jadi ya dijaga kesehatan. Olahraga, makan teratur, dan jangan terlalu banyak pikiran. Karena kalau tubuh sehat, pikiran juga tenang.

Baru bisa cepat menyesuaikan diri dengan perubahan,” katanya sambil tertawa kecil. Baginya, kesehatan adalah fondasi dari semua hal.

Tanpa tubuh yang kuat dan pikiran yang tenang, seorang pemimpin tidak akan mampu merespons dinamika zaman dengan bijak.

Kebiasaannya yang sederhana justru mencerminkan filosofi hidupnya bahwa untuk menghadapi dunia yang kompleks, manusia harus menjaga keseimbangan dalam dirinya sendiri.

Ia bahkan bercerita dengan nada ringan bahwa bila merasa kurang enak badan, dirinya lebih memilih berobat ke bidan langganannya daripada ke dokter, karena sudah menganggap sang bidan bagian dari keluarga.

Cerita ringan itu menunjukkan sisi humanis dari seorang rektor yang tetap membumi di tengah tanggungjawab besar.

Kini, di bawah kepemimpinan Prof Dr Dadan Ramdan, Universitas Medan Area terus menunjukkan kemajuan pesat dan dikenal sebagai salah satu universitas swasta terbaik di Sumatera Utara.

Namun di balik segala pencapaian itu, ia tetap tampil sebagai sosok yang rendah hati. Baginya, keberhasilan sejati tidak diukur dari banyaknya penghargaan atau megahnya bangunan, melainkan dari lahirnya generasi yang sehat, berpikir jernih, dan memiliki karakter kuat.

Bagi Prof Dadan, pendidikan bukan sekadar tentang teknologi atau sistem yang canggih, melainkan tentang membentuk manusia yang mampu berpikir, berperilaku, dan bertindak dengan hati nurani.

Ia meyakini bahwa hakikat pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar kecerdasan; membentuk karakter, bukan hanya kemampuan.

Sebab, baginya, kemajuan sejati sebuah kampus tidak diukur dari megahnya fasilitas atau tingginya angka akreditasi, tetapi dari seberapa besar kampus itu mampu melahirkan manusia yang sehat, beretika, dan peduli terhadap lingkungannya.

Pendidikan, menurutnya, adalah proses panjang untuk menumbuhkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, moral, dan kemanusiaan sebuah keseimbangan yang kini terus ia tanamkan dalam setiap langkah kepemimpinannya di Universitas Medan Area.

Kalimat dan sikapnya mencerminkan jati diri seorang pendidik sejati yang memimpin dengan keteladanan, bukan hanya dengan kebijakan.

Dari seorang dosen muda hingga kini menjabat sebagai rektor, Prof Dr Dadan Ramdan tetap teguh menjaga idealisme dan nilai kemanusiaan di tengah arus perubahan zaman.(Karinina Sellyta)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *