MEDAN (beritasore.co.id) : Aroma rempah Kanji Rumbi kembali menguar dari halaman Universitas Dharmawangsa (Undhar) Medan saat Ramadan 1447 H tiba. Bubur khas Aceh yang selalu hadir di meja iftar itu bukan sekadar hidangan pembuka, melainkan simbol kebersamaan yang terus dirawat kampus setiap tahun.
Sekilas menyerupai bubur ayam, Kanji Rumbi berbahan dasar beras yang dimasak bersama aneka rempah pilihan. Cita rasanya gurih dan kaya aroma, biasanya dipadukan dengan udang serta potongan daging.
Kehadirannya bukan sekadar melengkapi hidangan, tetapi juga menjadi simbol keberagaman budaya yang menyatu dalam suasana Ramadan.
Di balik semangkuk Kanji Rumbi, terjalin silaturahmi yang kian erat melalui tradisi buka puasa bersama yang kini digelar secara bergiliran. Tahun ini, Undhar menerapkan sistem terjadwal dalam pelaksanaan buka puasa bersama.
Setiap fakultas dan unit kerja dijadwalkan hadir secara bergantian setiap pekan, agar seluruh unsur civitas akademika yakni dosen, tenaga kependidikan, hingga fungsionaris, mendapat kesempatan merasakan hangatnya kebersamaan secara merata.
Rektor Undhar, Dr. H. Zamakhsyari bin Hasballah Thaib, Lc., MA, yang diwakili Wakil Rektor I Dr. Rahmat Hidayat, MA, menjelaskan kebijakan tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah civitas akademika di lingkungan kampus.
“Dengan sistem bergiliran, semua unsur kampus bisa terlibat aktif. Ini bukan sekadar acara berbuka, tetapi ruang membangun kebersamaan,” ujar Rahmat, Sabtu (28/2/2026).
Pada pekan terbaru, giliran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang mengikuti agenda tersebut. Sebelumnya, Fakultas Teknik dan program studi keagamaan juga telah hadir secara bergantian.
Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua Yayasan Pendidikan Dharmawangsa Medan H. Muzakkir, SE, Sekretaris Yayasan Dra. Hj. Farida Hanum Nasution, MAP, serta Kepala Pengawas Yayasan Pendidikan Saiful Anwar, SE. Hadir pula Wakil Rektor II Dr. Muhammad Luthfi, S.IKom., M.Si, Wakil Rektor III Umar Hamdan Nasution, SE., MM, dan Dekan FEB Dr. M. Amri Nasution, M.Si.
Menurut Rahmat, momen berbuka puasa menjadi ruang komunikasi informal yang efektif. Dalam suasana santai, percakapan berlangsung lebih cair dan persoalan yang sulit dibahas dalam forum formal kerap menemukan titik terang.
“Tradisi berdiskusi sambil makan sudah lama dikenal sebagai cara mempererat relasi dan membangun kesepahaman. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk itu,” katanya.
Lebih dari sekadar seremoni, buka puasa bersama di Undhar juga memuat nilai sosial yang kuat. Hidangan disiapkan melalui kontribusi bersama dari unsur yayasan, pengurus masjid kampus, dosen, hingga pimpinan lembaga.
“Bukan karena yayasan tidak mampu membiayai kegiatan ini. Justru kita ingin menerapkan konsep gotong royong, memberi ruang bagi setiap orang untuk berbagi dan merasakan makna sedekah,” tutur Rahmat.
Ia meyakini kebersamaan di luar ruang kelas akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap institusi. “Ketika seluruh unsur merasa dilibatkan, semangat memajukan kampus tumbuh secara kolektif,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, nilai spiritual, sosial, dan kelembagaan berpadu dalam satu momentum. Ramadan di Undhar bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menumbuhkan empati, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan semangat berbagi yang terus dirawat sepanjang waktu. (aje)















