Realisasi APBN Di Sumut 95 Persen Dorong Penurunan Kemiskinan Dan Pengangguran

  • Bagikan

MEDAN (beritasore.co.id): Konferensi Pers APBN Kita Regional Sumatera Utara menyoroti stabilitas ekonomi makro nasional yang terjaga sepanjang 2025, dengan perekonomian Sumatera Utara (Sumut) tumbuh 4,55 persen (y-on-y) pada Triwulan III-2025.

Siaran pers yang diterima dari Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sumatera Utara Rabu (28/1/2026) menyebut pertumbuhan ini didominasi oleh konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran dan sektor pertanian dari sisi produksi, menempatkan Sumut di urutan ke-7 terbesar di Pulau Sumatera dengan kontribusi 23,58 persen terhadap perekonomian kawasan.

Meski inflasi Sumut secara year-on-year (y-o-y) mencapai 4,66 persen lebih tinggi dari nasional, inflasi month-to-month (m-to-m) justru mengalami deflasi -0,52 persen, menunjukkan tren pengendalian harga yang membaik.

Neraca perdagangan Sumut hingga Desember 2025 mencatat surplus kumulatif 6,91 miliar dolar AS, tumbuh 34,59 persen (y-o-y), didorong ekspor CPO dan turunannya meski impor Desember melonjak.

Indikator kesejahteraan masyarakat terus membaik: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumut naik 0,94 persen menjadi 76,47 (di atas nasional 75,90), Gini Ratio turun ke 0,295 (lebih rendah dari nasional 0,375), jumlah penduduk miskin menyusut menjadi 1,14 juta jiwa atau 7,36 persen, serta Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2025 sebesar 5,32 persen (turun 0,28 poin persen y-o-y).

Kinerja APBN Sumut hingga Desember 2025 tetap optimal dengan pendapatan negara Rp37,20 triliun (87,73 persen pagu) dan belanja negara Rp61,89 triliun (95,32 persen pagu), menghasilkan defisit Rp29,69 triliun. Belanja Pemerintah Pusat terealisasi Rp19,39 triliun (91,98 persen pagu), sementara Transfer ke Daerah (TKD) Rp42,50 triliun (96,92 persen pagu), mendukung layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

*KUR

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp14,74 triliun ke 248.587 debitur (21,43% UMKM Sumut), terbesar di sektor pertanian Rp7,14 triliun, sementara Ultra Mikro (UMi) Rp937,75 miliar ke 152.007 debitur, dominan di perdagangan.

Daerah teratas: Kabupaten Deliserdang dan Kota Medan.Penerimaan pajak Kanwil DJP Sumut Rp25,4 triliun (78,04 persen target), kepabeanan dan cukai Rp3,50 triliun (193,52 persen target) dengan Bea Keluar CPO Rp2,286 triliun (naik 168 persen y-o-y), serta PNBP kekayaan negara dan lelang Rp115,12 miliar (naik 26,73 persen y-o-y).

“Perekonomian Sumut tetap resilien di tengah ketidakpastian global, berkat optimalisasi APBN yang mendukung Asta Cita dan kesejahteraan masyarakat,” tutur narasumber konferensi. Proyeksi 2026 menekankan penguatan ekspor, pengendalian inflasi, dan pemerataan pertumbuhan. (rel/wie)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *