Breaking News
Memuat breaking news...

Rumah yang Kubanggakan, Rumah yang Mulai Kukhawatirkan

Redaksi
Redaksi
Senin, 17 Agustus 2026 - 7.18 PM WIB
22
Rumah yang Kubanggakan, Rumah yang Mulai Kukhawatirkan
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Farid Abdullah Lubis

Rumah seyogianya menjadi tempat di mana kita merasa aman untuk pulang, bebas berbicara, dihargai sebagai manusia, dan memiliki harapan tentang masa depan.

Namun, bagaimana jika rumah yang kita cintai perlahan membuat kita bertanya: apakah kita masih benar-benar memiliki tempat di dalamnya?

Jika Indonesia kita anggap sebagai rumah, apakah semua orang juga masih merasakan hal yang sama?

Pertanyaan itu semakin sulit dijawab ketika kita melihat berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini. Mencintai Indonesia bukan berarti harus menutup mata terhadap kekurangannya. Sebagaimana mencintai rumah bukan berarti membiarkannya rusak tanpa berusaha memperbaikinya.

Kritik bukan tanda bahwa kita membenci rumah sendiri. Terkadang, kritik justru menjadi cara paling jujur untuk mengatakan bahwa kita masih peduli.

Kegelisahan ini bukan karena aku ingin angkat kaki dari tanah ibu pertiwi. Justru sebaliknya. Aku bertanya karena ingin tetap tinggal. Aku hanya ingin tahu: apakah Indonesia masih layak disebut rumah bagi kita semua?

Negeri yang Seharusnya Bisa Lebih Besar

Indonesia adalah negara yang luar biasa. Kita dianugerahi tanah yang subur, laut yang luas, hutan yang kaya, sumber daya alam yang melimpah, serta manusia-manusia yang mampu bekerja, berkarya, berinovasi, dan mengharumkan nama bangsa hingga ke berbagai penjuru dunia.

Kita juga memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: keberagaman.

Ratusan suku, bahasa, budaya, dan keyakinan hidup berdampingan di negeri ini. Semuanya disatukan oleh sebuah semboyan yang diwariskan sejak lama: Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tetapi tetap satu.

Karena itu, ketika melihat apa yang dimiliki Indonesia, pertanyaannya seharusnya bukan lagi apakah kita mampu menjadi bangsa yang besar.

Pertanyaannya adalah: mengapa dengan semua yang kita miliki, masih begitu banyak rakyat yang merasa hidupnya tidak mudah?

Sebentar lagi Indonesia memasuki usia 81 tahun kemerdekaan. Usia yang seharusnya membuat sebuah bangsa semakin matang dalam mengelola kekayaan, membangun institusi, dan memastikan rakyatnya memiliki kehidupan yang layak.

Soekarno pernah menggambarkan kemerdekaan sebagai sebuah “jembatan emas” menuju kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik.

Kemerdekaan, dengan demikian, bukanlah garis akhir. Ia adalah kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.

Lalu, setelah 81 tahun, sudah sejauh mana kita berjalan menyeberangi jembatan itu?

Ketika Masa Depan Terasa Tidak Pasti

Belakangan ini, ada banyak hal yang membuat masyarakat bertanya-tanya. Harga kebutuhan hidup terasa semakin berat. Lapangan pekerjaan tidak selalu mudah ditemukan. Banyak keluarga harus bekerja lebih keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah berbagai pembicaraan tentang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, masyarakat pada akhirnya memiliki ukuran yang sangat sederhana.

Mereka ingin hidup tenang.

Mereka ingin memiliki pekerjaan yang layak.

Mereka ingin bisa makan dengan cukup.

Mereka ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik.

Dan mereka ingin percaya bahwa kerja keras hari ini akan membawa kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Salah satu persoalan yang menurutku paling penting adalah pendidikan.

Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045, generasi unggul, bonus demografi, dan anak muda sebagai pewaris masa depan bangsa. Tetapi bagaimana kita bisa berbicara terlalu jauh tentang masa depan jika persoalan pendidikan dan pekerjaan hari ini masih begitu banyak?

Masih ada anak-anak yang belum mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak. Masih ada guru yang bekerja dengan segala keterbatasannya. Dan setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, tidak sedikit anak muda yang masih harus menghadapi ketidakpastian ketika memasuki dunia kerja.

Data BPS terbaru menunjukkan sekitar 7,22 juta orang masih menganggur pada Mei 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,03 juta merupakan lulusan D4 hingga S3.

Angka itu bukan sekadar statistik.

Di baliknya ada anak-anak muda yang telah menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar, membawa ijazah dan harapan, tetapi masih harus berhadapan dengan pertanyaan sederhana: setelah lulus, aku harus ke mana?

Pendidikan seharusnya menjadi jalan menuju masa depan. Karena itu, kita perlu bertanya mengapa pendidikan yang semakin tinggi belum selalu berbanding lurus dengan kepastian mendapatkan pekerjaan yang layak.

Membangun negara tidak selalu dimulai dari gedung tinggi atau proyek besar. Kadang, membangun negara justru dimulai dari sebuah ruang kelas dan seorang guru yang mengajarkan seorang anak untuk bermimpi.

Dan mimpi itu seharusnya tidak berhenti ketika ijazah diterima.

Negara Diuji Ketika Rakyat Membutuhkan

Keresahan tentang negara juga dapat dilihat dari sesuatu yang sangat sederhana: bagaimana negara hadir ketika rakyatnya berada dalam keadaan paling membutuhkan.

Kita pernah melihat bencana besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Banjir dan longsor menghancurkan rumah warga, memutus akses, merusak fasilitas umum, memaksa masyarakat mengungsi, dan meninggalkan persoalan panjang bahkan setelah air surut.

Perdebatan mengenai status bencana tentu penting dalam konteks kebijakan. Tetapi bagi masyarakat yang kehilangan rumah, ada pertanyaan yang jauh lebih sederhana.

Setelah semua status dan perdebatan selesai, siapa yang memastikan kehidupan mereka benar-benar kembali?

Bencana tidak selesai ketika kamera media pergi.

Tidak selesai ketika bantuan pertama datang.

Tidak selesai ketika pengungsi dipindahkan.

Dan tidak selesai ketika pemerintah mengumumkan bahwa keadaan telah terkendali.

Bagi masyarakat yang kehilangan rumah, bencana mungkin justru baru dimulai ketika air surut.

Mereka harus memikirkan tempat tinggal. Mereka harus mencari nafkah ketika alat kerja hilang. Anak-anak harus kembali sekolah. Petani harus mengolah lahan yang rusak. Pedagang harus kembali membuka usaha. Sebuah keluarga harus memulai kembali kehidupan ketika sebagian besar benda yang mereka miliki telah hilang.

Di titik inilah kehadiran negara seharusnya diuji.

Bukan hanya dari seberapa cepat bantuan diumumkan, tetapi dari seberapa jauh kehidupan masyarakat benar-benar dapat dipulihkan.

Negara mungkin melihat bencana sebagai program penanganan. Masyarakat mengalaminya sebagai kehidupan yang terputus.

Dan mungkin di situlah perbedaan cara pandang yang harus kita perhatikan.

Kita sering berbicara tentang negara melalui bahasa kebijakan, angka anggaran, program, dan laporan keberhasilan.

Tetapi masyarakat mengalami negara melalui sesuatu yang jauh lebih konkret:

Apakah rumah mereka kembali berdiri?

Apakah mereka bisa kembali bekerja?

Apakah anak-anak mereka bisa kembali sekolah?

Negara Tidak Hanya Membutuhkan Kepatuhan, tetapi Kepercayaan

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Masyarakat mungkin tidak selalu memahami rumitnya persoalan hukum atau politik. Tetapi mereka memahami sesuatu yang sangat sederhana: mereka ingin percaya bahwa negara bekerja untuk mereka.

Program pemerintah, termasuk program yang memiliki tujuan baik seperti pemenuhan gizi anak, tentu patut diapresiasi apabila benar-benar memberikan manfaat.

Namun, program publik juga harus terbuka terhadap kritik, pengawasan, dan evaluasi.

Perbedaan pendapat tidak seharusnya selalu diperlakukan sebagai ancaman. Kritik tidak otomatis berarti kebencian. Dan masyarakat yang mempertanyakan kebijakan tidak serta-merta berarti tidak mencintai negaranya.

Justru dalam negara demokratis, kemampuan pemerintah untuk mendengarkan kritik merupakan bagian dari kekuatan negara itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, negara tidak hanya membutuhkan rakyat yang patuh.

Negara juga membutuhkan rakyat yang percaya.

Ketika kepercayaan mulai retak, yang dipertaruhkan bukan hanya citra seorang presiden atau sebuah lembaga. Yang dipertaruhkan adalah hubungan yang jauh lebih besar antara warga negara dan rumah yang mereka sebut Indonesia.

Mengapa Anak Muda Ingin Pergi?

Ada satu hal lain yang menurutku tidak boleh kita abaikan: semakin banyak anak muda yang mulai mempertanyakan masa depannya di Indonesia.

Ini bukan semata-mata persoalan nasionalisme.

Banyak dari mereka masih mencintai negeri ini. Namun, mereka mulai bertanya apakah negeri ini mampu memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh.

Setelah lulus, apakah aku akan mendapatkan pekerjaan yang layak?

Apakah penghasilanku cukup untuk hidup mandiri?

Apakah aku bisa memiliki rumah?

Apakah kerja kerasku akan membawa kehidupan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin berat ketika mereka melihat lapangan kerja yang kompetitif, biaya hidup, persoalan pendidikan, ketimpangan kesempatan, serta berbagai persoalan politik dan hukum yang terasa berulang.

Tidak sedikit anak muda akhirnya memilih kuliah, bekerja, atau membangun karier di luar negeri.

Menurutku, kita tidak perlu buru-buru menyebut mereka tidak nasionalis.

Bisa jadi persoalannya bukan karena mereka tidak mencintai Indonesia.

Bisa jadi mereka hanya sedang mencari tempat yang memberi mereka kesempatan untuk tumbuh.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan:

“Mengapa mereka pergi?”

Melainkan:

“Apa yang membuat mereka merasa harus pergi?”

Jika anak muda pergi karena ingin belajar dan memperluas pengalaman, tentu itu bukan persoalan. Dunia memang terbuka dan kesempatan dapat ditemukan di mana saja.

Namun, jika mereka pergi karena merasa masa depan yang mereka inginkan tidak mungkin dibangun di negeri sendiri, maka kita perlu berhenti sejenak dan bercermin.

Sebab yang hilang bukan sekadar tenaga kerja atau talenta.

Kita mungkin sedang kehilangan sebagian dari generasi yang seharusnya menjadi kekuatan untuk membawa Indonesia bergerak lebih jauh.

Rumah yang Harus Terus Diperbaiki

Kadang aku berpikir, sebenarnya apa yang kurang dari Indonesia?

Alamnya ada.

Manusianya ada.

Anak mudanya banyak yang pintar.

Orang-orang kreatif juga tidak sedikit.

Kita memiliki sejarah perjuangan yang panjang dan semboyan yang mengajarkan kita untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Mungkin persoalannya bukan karena kita tidak memiliki sumber daya.

Mungkin persoalannya adalah bagaimana kita mengelolanya dengan baik dan adil untuk kepentingan bersama.

Ketika seseorang kehilangan rumah karena bencana, ia tidak membutuhkan negara yang sekadar terlihat kuat di atas kertas. Ia membutuhkan negara yang membuatnya kembali merasa aman.

Ketika seorang anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak, ia tidak hanya membutuhkan janji tentang Indonesia Emas 2045. Ia membutuhkan ruang untuk belajar hari ini.

Dan ketika seorang anak muda mempertanyakan masa depannya, ia tidak selalu membutuhkan slogan tentang nasionalisme.

Ia hanya membutuhkan alasan untuk percaya bahwa bekerja keras di negeri sendiri masih memiliki masa depan.

Sebagai masyarakat biasa dan bagian dari pemuda Indonesia, terkadang aku merasa tidak bisa berbuat banyak.

Kita bukan pejabat. Bukan pula orang yang memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan.

Kita mungkin hanya bisa bekerja, membayar pajak, membantu orang di sekitar, menyampaikan pendapat, dan menulis keresahan seperti ini.

Tetapi mungkin itu tidak masalah.

Sebab mencintai Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan sesuatu yang besar.

Kadang mencintai negeri ini cukup dengan tidak berhenti peduli.

Tetap berani bertanya ketika ada yang salah.

Tetap berani mengkritik ketika ada yang tidak adil.

Dan tetap mau melakukan sesuatu yang baik, meskipun kecil.

Indonesia yang Ingin Kita Pulangi

Bangsa ini telah berusia 81 tahun.

Usia yang seharusnya membuat kita semakin dewasa, bukan justru semakin kehilangan arah.

Aku tidak ingin melihat Indonesia menjadi negara yang kaya di atas kertas, tetapi rakyatnya miskin harapan.

Aku ingin melihat kekayaan alam kita benar-benar menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.

Aku ingin pendidikan menjadi tempat lahirnya masa depan, bukan sekadar urusan angka dan anggaran.

Aku ingin hukum membuat masyarakat merasa aman, bukan semakin bertanya-tanya.

Dan aku ingin Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya menjadi tulisan di bawah lambang Garuda, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian kita.

Aku juga ingin ketika bencana datang, negara tidak hanya hadir ketika perhatian publik sedang tertuju kepada korban.

Aku ingin negara tetap hadir ketika kamera sudah pergi, ketika pemberitaan mulai berganti, ketika bantuan darurat telah selesai, dan ketika masyarakat mulai menjalani pekerjaan yang jauh lebih panjang: membangun kembali kehidupan mereka.

Sebab mungkin di situlah arti sebuah rumah benar-benar diuji.

Bukan ketika semuanya baik-baik saja.

Tetapi ketika salah satu penghuninya kehilangan tempat untuk pulang.

Terakhir, mungkin aku tidak bisa mengubah banyak hal.

Mungkin kita juga tidak bisa mengubah semuanya.

Tetapi setidaknya, di usia 81 tahun ini, jangan sampai kita kehilangan satu hal yang paling penting: harapan bahwa Indonesia masih bisa menjadi negara yang kita banggakan.

Bukan hanya karena di sinilah kita dilahirkan.

Tetapi karena di sinilah kita merasa dihargai, memiliki masa depan, dan memiliki alasan untuk tetap tinggal.

Sebab sebuah rumah yang baik bukanlah rumah yang tidak pernah memiliki masalah.

Rumah yang baik adalah rumah yang penghuninya masih mau memperbaiki ketika ada yang rusak, masih mau menjaga ketika ada yang terancam, dan masih ingin pulang meskipun perjalanan tidak selalu mudah.

Dan aku masih ingin pulang.

Ke Indonesia yang lebih adil.

Ke Indonesia yang lebih makmur.

Ke Indonesia yang membuat anak-anak mudanya tidak hanya bangga menyebutnya tanah air, tetapi juga yakin bahwa masa depan mereka layak dibangun di dalamnya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Semoga rumah ini tidak pernah kehilangan penghuninya.

Semoga rumah ini juga tidak pernah kehilangan harapan.

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait