Breaking News
Memuat breaking news...

Remaja Disabilitas Di Asahan Sejak Lahir Tak Pernah Dapat Bantuan

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 20 Juni 2026 - 10.53 PM WIB
1001
Remaja Disabilitas Di Asahan Sejak Lahir Tak Pernah Dapat Bantuan
Reading Comfort
adjust the font size

ASAHAN (beritasore.co.id) : Rapi dan Rapa anak kembar yang dilahirkan oleh pasangan suami istri Erdi (39) dan Juliani (37) pada 16 tahun yang silam, di Dusun II Desa Perkebunan Aek Nagaga, Kecamatan Rahuning, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.

Sejak lahir bayi kembar itu tampak tumbuh sehat dan normal, dan pada usia 6 bulan keduandan sudah ulai belajar merangkak.

Kemudian pada usia 9 bulan Rapa sudah bisa berjalan dan berlari, tetapi kembarannya, Rapi baru bisa berjalan setelah usia sekitar 4 tahun. Hal itu diakibatkan kondisi fisiknya sagat lemah.

"Padahal, semasa bayi Rapi cukup minum ASI (Air Susu Ibu) ketimbang Rapa yang tak peenah karena ikut dengan neneknya, dan kegiatan posyandu pun Rapi aktif", kata pasutri tersebut saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (19/6).

Menurut Erdi maupun Yuni, kaki Rapi membentuk hurup X membuat kedua lututnya hampir saling bersentuhan, dan bila berjalan sering terjatuh.

"Dari hari ke hari dengan usia yang terus bertambah, tubuh Rapi seolah tidak tumbuh dan tampak semakin mengecil", ujar Erdi.

Dari isitulah Erdi dan istrinya Juliani membawa Rapi ke dokter, dengan gejala-gejala yang ditunjukkan kondisi tubuhnya, dokter pun mendiagnosa jika penyakit yang diderita Rapi adalah polio.

"Sejak masih hamil memang tidak pernah di USG, sehingga tidak diketahui kalau banyi dalam kandungan kembar, dan tidak tau terinfeksi virus volio", paparnya.

Menurut Erdi dan Juliani, untuk berdiri saja kaki Rapi gemetar, sehingga tidak pernah keluar rumah. Ironisnya, banyak warga di Desa Perkebunan Gunung Melayu ini tidak mengetahui kalau kami punya anak kembar yang cacat fisiknya (disabilitas).

"Setiap hari Rapi hanya duduk dalam rumah sambil nonton tivi. IQ-nya juga rendah, tapi kalau ada orang bicara ia juga bicara tanpa arah, dan mau bersorak sendiri bila nonton tivi ada yang disenanginya", paparnya.

Erdi menambahkan, keunikan yang dimiliki Rapi saat makan, tubuhnya ditelungkupkan mirip orang yang sedang sujud menghadapi makanan yang ingin disantapnya.

"Beda dengan Rapa yang memiliki fisik normal yang kini sudah duduk di bangku kelas dua SMA. Sementara Rapi hanya pernah masuk SD dalam hitungan jaril, akibat fisiknya yang tak mampu mengikuti pelajaran dari guru", cetus bebernya.

Terkait dengan Bantuan Sosial yang ada di Desa Perkebunan Aek Nagaga. Selama ini Rapi tidak pernah mendapat bantuan apapun baik bantuan tunai/non tunai, bantuan makanan (makanan siap saji), alat bantu fisik dan asitensi rehabilitasi Sosial (ATENSI).

"Kalau didata oleh Pemerintah Desa sering, tetapi sejak lahir Rapi tidak pernah dapat bantuan, kalau bantuan covid-19 pernah atas nama suami saya, sekarang sudah tidak lagi", timpal Juliani.

Menurut Erdi dan Juliani, kalau ditinjau dari kondisi rumahnya sudah layak huni, tapi dari segi ekonomi mereka tergolong kurang mampu. Apalagi, pekerjaan Erdi hanya seorang kuli bangunan hasilnya tak seberapa dan tidak mencukupi untuk kelangsungan hidup.

"Kalau di pandang rumah ya, kami dianggap orang mampu. Padahal, kalau tak menghutang mungkin kami tidak punya apa-apa", ungkap Erdi. .

Melihat kondisi tersebut, Erdi dan Juli berharap kepada Perintah Kabupaten Asahan agar anaknya yang menyandang disabilitas bisa mendapat bantuan melalui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

"Kalau bisa bantuan untuk Rapi berupa dana, untuk kebutuhan hidup dan perawatan kesehatannya" pungkas Erdi senada yang dengan harapan istrinya, Juliani. (min)

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait