Polres Madina Gencarkan Edukasi Ops Patuh Toba 2026, Sasar Warga, Pelajar, dan SantriPolres Madina Gencarkan Edukasi Ops Patuh Toba 2026, Sasar Warga, Pelajar, dan Santri


PANYABUNGAN (beritasore.co.id): Operasi Patuh Toba 2026 Polres Mandailing Natal (Madina) digelar selama 14 hari, mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026. Operasi ini mengusung tema "Polisi Bersama Masyarakat Mewujudkan Lalu Lintas Aman, Tertib, dan Berkeselamatan".
Sebagai bagian dari kegiatan preemtif dan edukatif, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Madina di bawah pimpinan Kasat Lantas Iptu Sumardi, S.H., M.M., turun langsung melakukan sosialisasi humanis kepada berbagai lapisan masyarakat, mulai dari komunitas warga hingga lembaga pendidikan.
Fokus kegiatan dipusatkan di tiga lokasi, yakni Desa Pidoli Lombang, SMK Namira Husada di Kecamatan Panyabungan, dan Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru di Kecamatan Lembah Sorik Marapi (LSM).

Hal tersebut disampaikan Kapolres Madina melalui Kasat Lantas Polres Madina, Iptu Sumardi, S.H., M.M., kepada wartawan, Rabu malam (4/11), melalui sambungan seluler.
"Kami menyambangi warga, pengguna jalan, dan komunitas lokal seperti penarik becak bermotor (parbetor) di kawasan permukiman dan jalur lintas Pidoli Lombang," ujar Sumardi.
Dalam kegiatan tersebut, petugas memberikan edukasi tatap muka secara humanis. Warga diimbau untuk selalu menggunakan helm Standar Nasional Indonesia (SNI), tidak membawa penumpang melebihi kapasitas, serta melengkapi surat-surat kendaraan.
"'Halo Bu, sudah pakai helm dan tidak ragu melewati barisan polisi lalu lintas, berarti sudah tahu ada Ops Patuh Toba 2026'," ujar salah satu anggota Satlantas saat menyapa warga Pidoli Lombang.
Sasar Pelajar dan Santri
Selain warga, edukasi juga menyasar pelajar di SMK Namira Husada Panyabungan. Sosialisasi di lingkungan pendidikan ini bertujuan membentuk karakter generasi muda yang taat hukum sejak dini.
Adapun materi yang ditekankan kepada pelajar meliputi larangan penggunaan knalpot tidak sesuai spesifikasi teknis (knalpot brong) yang mengganggu kenyamanan publik, larangan mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan atau berboncengan lebih dari satu orang, serta pentingnya menjadikan keselamatan sebagai kebutuhan utama saat beraktivitas ke sekolah.
Sementara di Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, pendekatan dilakukan untuk merangkul para santri agar menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas.
"Petugas memberikan pemahaman tentang pentingnya mematuhi aturan lalu lintas demi menghindari risiko fatalitas kecelakaan. Kami juga berkolaborasi dengan pihak pengasuh pesantren untuk bersama-sama mengingatkan santri maupun wali santri yang berkunjung agar menjaga ketertiban parkir dan berkendara di sekitar Jalinsum Purba Baru," pungkas Sumardi.(Kdr).






Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda