Breaking News
Memuat breaking news...

Pengurus BKM Masjid Agung Medan Sesalkan Tudingan Penggelapan Dana Infak

Redaksi
Redaksi
Kamis, 5 November 2026 - 1.22 PM WIB
24
Pengurus BKM Masjid Agung Medan Sesalkan Tudingan Penggelapan Dana Infak
Petugas Bank Sumut Syariah bersama petugas BKM sedang menghitung dana infaq jamaah awal Oktober lalu sebelum dana infaq ini dikuasai yang mengatasnamakan kenaziran wakaf masjid agung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (beritasore.co.id): Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Agung Medan, DR Impun Siregar, menyayangkan semakin masifnya tudingan yang dialamatkan kepada pengurus BKM, khususnya terkait dugaan pencurian dan penggelapan dana infak umat.

Impun menilai tudingan tersebut telah mengarah pada fitnah dan berpotensi mencederai nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.

Menurut Impun, selama puluhan tahun pengurus BKM telah menjalankan operasional masjid dengan penuh keikhlasan dan mengedepankan transparansi, termasuk dalam pengelolaan dana infak.

Ia menjelaskan, uang infak yang terkumpul dari kotak-kotak infak tidak pernah dipegang langsung oleh pengurus BKM. Proses penghitungan dilakukan dengan disaksikan dan ditangani langsung oleh petugas Bank Sumut Syariah.

"Selama ini pengurus BKM tidak pernah memegang uang infak. Dana tersebut langsung dibawa oleh petugas bank setelah proses penghitungan," demikian penjelasan Impun seraya menyebutkan pengurus BKM juga tidak mau menerima honor dari mengurus masjid.

Ia juga menyebutkan, peristiwa yang kemudian dilaporkan ke kepolisian tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya. Menurutnya, persoalan tersebut telah diklarifikasi di Polrestabes Medan.

Sementara itu, Ketua Bidang Keamanan BKM, H. Chairul Lubis, membeberkan kronologi peristiwa yang terjadi pada awal Oktober lalu, tepatnya setelah pelaksanaan salat Jumat.

Menurut Chairul, saat itu terdapat seseorang bernama Puliadong yang disebut bukan petugas BKM membawa tas berisi kunci kotak infak milik BKM.

Karena merasa curiga, pengurus BKM kemudian meminta tas berisi kunci tersebut untuk diserahkan kepada bendahara. Selanjutnya, pembukaan kotak infak dilakukan bersama petugas bank guna menghitung dana yang terkumpul.

Namun, Chairul menyayangkan karena peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke polisi oleh Puliadong dengan dugaan tindak pencurian dan penggelapan.

"Yang menjadi pertanyaan, mengapa seseorang yang bukan petugas BKM justru membawa tas berisi kunci kotak infak milik BKM?" demikian keberatan yang disampaikan pihak pengurus.

Chairul juga mengungkapkan, setelah persoalan tersebut muncul, terdapat kotak infak tandingan yang disebut berasal dari pihak kenaziran wakaf. Menurutnya, sejak Oktober, pengelolaan infak umat yang selama ini berada di bawah BKM telah dikuasai pihak tersebut dengan melibatkan sejumlah relawan dari organisasi kepemudaan (OKP).

Bahkan, kantor BKM disebut sempat digembok. Atas kondisi tersebut, pengurus BKM meminta bantuan dua personel dari Kementerian Agama Kota Medan untuk membantu petugas BKM menjaga kotak infak milik BKM.

Terkait tudingan penutupan kamera CCTV, Chairul menjelaskan bahwa hal itu terjadi pada waktu berbeda, ketika pengurus BKM sedang menggelar rapat penting membahas perselisihan internal di lingkungan masjid.

Ia menegaskan, persoalan CCTV tersebut tidak berkaitan dengan pengelolaan maupun penghitungan uang infak. Terlebih, menurutnya, sistem CCTV berada dalam penguasaan pihak kenaziran wakaf.

Di tengah polemik tersebut, pengurus BKM juga mengingatkan kembali sejarah pembangunan Masjid Agung Medan yang hingga kini masih terus berproses.

Ketua Bidang Aset BKM Edwin Ginting menyayangkan jika kontribusi berbagai pihak dalam pembangunan masjid seolah dilupakan. Ia menyebut keberadaan dan kelanjutan pembangunan Masjid Agung Medan tidak terlepas dari dukungan hibah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp350 miliar pada masa kepemimpinan Gubernur Edy Rahmayadi.

Menurutnya, dana hibah yang diterima BKM tersebut seluruhnya telah diserahkan kepada panitia pembangunan. Penyerahan dana itu, kata dia, diterima oleh Wakil Ketua Panitia Pembangunan, Musa Idhisah, bersama Bendahara Panitia, Yuslin Siregar.

Pengurus BKM berharap polemik yang terjadi tidak semakin memperkeruh suasana dan mengorbankan kepentingan umat. Mereka meminta seluruh pihak mengedepankan keterbukaan, tabayun, serta penyelesaian melalui mekanisme yang benar agar Masjid Agung Medan tetap menjadi rumah ibadah yang mempersatukan umat.(**).

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement