Breaking News
Memuat breaking news...

Lenggang Manggeng Tak Lagi Berlenggang, Kepergian Atok Bustami, Penjaga Irama Tanah Kelahiran

Redaksi
Redaksi
Minggu, 20 September 2026 - 8.52 AM WIB
3
Lenggang Manggeng Tak Lagi Berlenggang, Kepergian Atok Bustami, Penjaga Irama Tanah Kelahiran
Keterangan Foto: Almarhum H. Bustami Anwar, pencipta lagu "Lenggang Manggeng", yang akrab disapa Maklis atau Atok.
Reading Comfort
adjust the font size

Sebuah suara dari Manggeng akhirnya berhenti bernyanyi.

Kamis itu, 17 September, sekitar pukul 19.00 WIB, di kediamannya yang sederhana di Gampong Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya, H. Bustami Anwar mengembuskan napas terakhirnya. Di usia 71 tahun, ia pulang. Tenang.

Bagi banyak orang, ia adalah Bustami Anwar, pencipta lagu legendaris Lenggang Manggeng. Tapi bagi kami yang mengenalnya, ia adalah Maklis. Ia adalah Atok. Panggilan yang lahir bukan dari panggung, melainkan dari kedekatan.

Ia bukan seniman yang berjarak. Ia lelaki sederhana, yang tawanya renyah, humornya cair, dan hatinya mudah diterima di mana saja — di warung kopi, di kantor pemerintahan, hingga di lingkaran para seniman Pantai Barat Selatan Aceh.

Bagi sebagian orang, lagu hanyalah rangkaian nada. Bagi Atok Bustami, lagu adalah cara untuk memeluk tanah kelahirannya.

Lewat tangannya, ia merekam Manggeng. Ia merekam wangi tanah setelah hujan, riuh pasar pagi, tawa anak-anak di tepi pantai, dan denyut hidup orang-orang kampungnya. Ia menuliskan identitas kita ke dalam lirik, agar tak hilang ditelan waktu. Dari situlah lahir karya-karya bernuansa lokal yang kemudian dinyanyikan banyak penyanyi daerah.

Dan di antara semua itu, ada satu yang paling melekat: Lenggang Manggeng.

Lagu itu bukan sekadar lagu. Ia adalah ingatan kultural kita. Setiap kali lenggok iramanya mengalun, kita seperti diajak pulang. Nama Manggeng menjadi abadi di dalamnya, dan nama Bustami Anwar menjadi penjaganya.

Perjalanannya tak hanya di atas panggung. Ia juga pernah mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya. Dua sisi yang jarang bertemu dalam satu jiwa: seorang birokrat yang setia pada tugas, dan seorang seniman yang setia pada rasa. Keduanya ia jalani dengan ketulusan yang sama.

Di bulan-bulan terakhir, tubuhnya melemah. Keluarga telah berikhtiar sekuat cinta — membawanya berobat ke Banda Aceh, bahkan hingga ke luar Aceh. Namun, ada batas yang tak bisa dilampaui manusia.

“Almarhum memang sudah lama sakit. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan almarhum. Tapi ini semua sudah menjadi takdir dari Yang Mahakuasa,” tutur Hamdi, salah seorang keluarga almarhum, dengan suara lirih, Sabtu (19/9).

Kini, jasadnya telah dibaringkan dengan tenang di Tempat Pemakaman Umum Kemasjidan Ayah Gadeng, Desa Tengah, Kecamatan Manggeng. Tanah yang dulu ia abadikan dalam lagu, kini memeluknya kembali.

Kepergiannya meninggalkan ruang kosong. Di meja-meja tempat ia biasa bercanda, di panggung-panggung tempat karyanya dinyanyikan, di hati keluarga dan sahabat.

Namun, bukankah seniman tak pernah benar-benar pergi?

Ia tinggal dalam karya yang tak lekang. Ia tinggal dalam cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Ia tinggal dalam nama sebuah tempat yang ia muliakan lewat nada. Dan ia akan hidup kembali, setiap kali seseorang mendendangkan Lenggang Manggeng dengan mata terpejam.

Bustami Anwar telah menutup perjalanannya.

Tapi dari Manggeng ia berkarya, dan di Manggeng pula iramanya akan terus berdetak. Selamanya.

Selamat jalan, Atok. (Syafrizal).

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait