Konjen Malaysia Gelar Nobar Film "Puteri Gunung Ledang", Kebanggaan Dunia SerumpunKonjen Malaysia Gelar Nobar Film "Puteri Gunung Ledang", Kebanggaan Dunia Serumpun
Redaksi
Minggu, 24 Mei 2026 - 11.20 AM WIB
20

Reading Comfort
adjust the font size
MEDAN (beritasore.co.id): Konsulat Jenderal (Konjen) Malaysia di Medan menggelar acara "Wacana Bahasa dan Budaya" yang menampilkan nonton bareng (Nobar) film eksklusif 'Putri Gunung Ledang ' (Princess of Mount Ledang) di hotel JW Marriott Medan Kamis(21/5/2026) malam.
Acara itu dibuka Konsul Jenderal Malaysia di Medan Shahril Nizam Abdul Malek. Dihari sejumlah Konsul negara sahabat antara lain Konsul Jenderal India di Medan Ravi Shanker Goel, Konsul Kehormatan Turki Rahmat Shah dan Konsul Kehormatan Timor Leste Irwansyah.
Film legenda masa Kerajaan Majapahit di Indonesia, Suktan Malaka, Hang Tuah dan
Puteri Gunung Ledang juga digambarkan sosok yang punya kekuatan supranatural, seperti teleportasi, astral, dan memberikan kutukan.
Film Puteri Gunung Ledang yang terkenal disutradarai oleh Saw Teong Hin dan dibintangi Tiara Jacquelina serta M. Nasir dirilis pada tahun 2004.
Nobar ini tidak sekadar menyaksikan sebuah tayangan film, tetapi turut menelusuri jejak peradaban, cinta, marwah, dan legenda yang hidup dalam khazanah budaya Melayu.
Sebuah karya sinematik yang bukan hanya dikenang di Malaysia, tetapi juga menjadi kebanggaan dunia serumpun.
Konsulat Jenderal Malaysia di Medan Shahril Nizam Abdul Malek menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia bukan sekadar hubungan diplomatik dan politik, melainkan hubungan persaudaraan yang lahir dari akar sejarah, bahasa, dan budaya yang sama dalam peradaban Nusantara.
Hal tersebut disampaikan Shahril Nizam Abdul Malek, dalam sambutannya pada acara Wacana Bahasa dan Budaya serta pemutaran eksklusif film Puteri Gunung Ledang di JW Marriott Hotel Medan, Kamis (21/5/2026) malam.
Menurutnya, hubungan antara Malaysia dan Indonesia bukan sekadar hubungan politik, bukan sekadar hubungan diplomasi. "Hubungan kita jauh lebih besar daripada itu semua. Hubungan kita diikat oleh sejarah yang sama, bahasa yang sama, jiwa yang sama, dan budaya yang sama,” ujar Shahril Nizam.
Shahril menilai Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara serumpun yang berasal dari akar peradaban yang sama, yakni peradaban Nusantara.
"Melalui tayangan film Puteri Gunung Ledang, kita bukan hanya menyaksikan sebuah hiburan, tetapi kita sedang menyaksikan cerminan diri kita sendiri, cerminan Melayu Nusantara,” katanya.
Pada nonton bareng ini, kata Konjen Shahril, kita tidak sekadar menyaksikan sebuah tayangan film, tetapi turut menelusuri jejak peradaban, cinta, marwah, dan legenda yang hidup dalam khazanah budaya Melayu.
Sebuah karya sinematik yang bukan hanya dikenang di Malaysia, tetapi juga menjadi kebanggaan dunia serumpun. Adat yang menjunjung tinggi filosofi kehidupan dan budi pekerti.
Salah satu hal yang paling indah dalam budaya kita adalah bagaimana kita menjunjung tinggi budi pekerti. Bagaimana kita tidak meninggikan suara, bagaimana kita tetap menjaga adab. Bahkan ketika sedang menolak sesuatu. "Itulah jati diri kita yang sebenarnya,” ujarnya.
Shahril Nizam juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi yang semakin cepat dan dinilai dapat mengikis nilai tradisional masyarakat.
Hubungan Indonesia dan Malaysia tidak boleh hanya dibangun atas dasar perdagangan maupun investasi, tetapi harus diperkuat melalui tiga pilar utama, yakni bahasa, budaya, dan persaudaraan.
“Pertama, bahasa yang menyatukan pikiran kita. Kedua, budaya yang menyatukan perasaan kita. Dan ketiga, persaudaraan yang menyatukan masa depan kita,” katanya.
Film ini mengisahkan legenda tentang Gunung Ledang, sebuah gunung di Johor, Malaysia? J Konon ada seorang puteri cantik yang tinggal sendirian di puncak gunung tersebut. Nah,
sosok puteri Gunung Ledang ini adalah seorang puteri dari Majapahit.
Dikisahkan sang puteri Majapahit, Gusti Putri Raden Ajeng Retno Dumilah (Tiara Jacquelina) jatuh cinta dengan Laksamana Hang Tuah (M. Nasir). Ia terus menunggu kedatangan Laksamana Hang Tuah.
Ketika kekasihnya tak kunjung datang menjemputnya, ia memutuskan datang menghampiri. Ditemani pengawal dan dayangnya, Bayan (Christine Hakim) ia menuju Gunung Ledang. Ia kemudian memutuskan tinggal seorang diri di sana sambil menunggu kedatangan kekasihnya.
Sementara itu Gusti Adipati Handaya Ningrat (Alex Komang), raja Majapahit, kakak Putri Retno Dumilah resah dengan serangan Kesultanan Demak. Ia hendak menawarkan pernikahan politik, mengajukan adiknya dengan sultan Demak. Ia marah ketika mengetahui adiknya menghilang tanpa sepengetahuannya.
Ia kemudian berupaya menjalin hubungan dengan Kesultanan Malaka dengan memohon kepada adiknya untuk rela berkorban demi tanah airnya. Awalnya Putri Retno Dumilah enggan, demi cintanya kepada Hang Tuah. Namun kemudian ia menerima lamaran dari Sultan Malaka, Sultan Mahmud Shah (Adlin Aman Ramlie) dengan memberikan persyaratan yang berat.
Hal menarik di film ini meskipun legenda tapi ada tiga kerajaan dan sosok asli yang disebutkan di film ini. Laksamana Hang Tuah, Sultan Mahmud Shah dan permaisuri Tun Teja adalah orang-orang yang memang tercatat di sejarah. Demikian pula dengan Kesultanan Malaka, Kerajaan Demak, dan Kerajaan Majapahit. Cerita ini sendiri berlatar penyerangan Demak dan ketika Hang Tuah berkarier sebagai panglima Kesultanan Malaka.
Nah meski ceritanya menyangkut puteri dan raja Majapahit, tapi keakuratan sejarahnya sangat diragukan. Nama puteri dan raja Majapahitnya sulit diketahui kebenarannya. Retno Dumilah malah disebutkan sebagai bupati perempuan Madiun (Purabaya) pada tahun 1568. Jauh bertahun-tahun dari peristiwa tersebut, jika menilik masa kekuasaan Sultan Mahmud Shah (1488-1528) memang sedang terjadi penyerangan Demak ke Majapahit. (wie)
Topik
No topics for this article yet.
Berita Terkait







Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda