Breaking News
Memuat breaking news...

Ketua MUI Padangsidimpuan Ingatkan Calon Dai Luruskan Niat Dakwah

Redaksi
Redaksi
Senin, 5 Oktober 2026 - 7.50 AM WIB
1
Ketua MUI Padangsidimpuan Ingatkan Calon Dai Luruskan Niat Dakwah
Reading Comfort
adjust the font size

PADANGSIDIMPUAN (beritasore.co.id): Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padangsidimpuan, Ustadz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA, mengingatkan calon dai dan daiyah untuk meluruskan niat dalam berdakwah dan tidak menjadikan materi sebagai ukuran.

Pesan tersebut disampaikan Zulfan saat memberikan pembekalan kepada calon dai dan daiyah se-Kota Padangsidimpuan di Aula Kantor MUI Padangsidimpuan, Minggu (4/10/2026).

Pembekalan yang diselenggarakan Komisi Dakwah MUI Kota Padangsidimpuan ini mengusung tema "Optimalisasi Media Digital sebagai Sarana Syiar Islam di Masa Kini". Kegiatan berlangsung dua hari, 3-4 Oktober 2026, dan diikuti siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) serta santri pondok pesantren.

Zulfan menilai, tingginya aktivitas dakwah tidak serta-merta menunjukkan keberhasilan. Keberhasilan dakwah, menurutnya, bukan diukur dari seberapa sering dai berbicara, melainkan dari sejauh mana pesan dipahami, menyentuh hati, dan mendorong perubahan perilaku umat atau mad'u.

"Dakwah yang efektif itu ceramahnya mudah dipahami, menimbulkan kesenangan, mampu memengaruhi sikap mad'u, dan mendorong hubungan yang semakin baik," ujarnya.

Ia menyayangkan masih ada penceramah yang menjadikan imbalan materi sebagai syarat utama memenuhi undangan dakwah. Ia menceritakan pengalamannya puluhan tahun lalu, ketika seorang ustadz menolak undangan Maulid Nabi dari warga pelosok hanya karena nilai transportasi yang ditawarkan dinilai kecil, meski warga sudah berupaya mengumpulkan sumbangan.

"Uang itu perlu, tapi jangan karena uang baru berdakwah," kata Zulfan.

Zulfan juga mengingatkan calon dai agar tidak membatalkan janji mengisi pengajian hanya karena mendapat tawaran dengan imbalan lebih besar. Menurutnya, persoalan dakwah tidak hanya pada materi, tetapi juga pada keteladanan pribadi pendakwah.

Selain krisis keteladanan, kegagalan dakwah juga disebabkan metode yang monoton, penguasaan materi yang lemah, persiapan ilmu yang kurang, serta penggunaan bahasa yang kasar dan tidak santun.

Terkait penggunaan humor dalam dakwah, ia menegaskan humor diperbolehkan selama relevan dan tidak menghilangkan substansi pesan agama.

"Jangan sampai humor itu mengandung pandangan negatif," tegasnya.

Ia menambahkan, dakwah pada generasi Z idealnya dilakukan secara dialogis, tidak dogmatis, berbasis keteladanan, dan memanfaatkan media sosial. Dai dituntut mengenali audiens, memahami kebutuhan mereka, serta faktor eksternal seperti lingkungan, budaya, materialisme, dan gaya hidup.

"Dakwah harus berujung pada perubahan. Apapun ikhtiar kita, tanpa hidayah dan rida Allah tidak akan berhasil," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah MUI Kota Padangsidimpuan, Drs. H. Syahid Muammar Pulungan, SH, mengatakan efektivitas dakwah harus memperhatikan sasaran dakwah berdasarkan usia, tingkat pendidikan, dan karakteristik masyarakat.

Ia merujuk data BPS yang menyebut penduduk Padangsidimpuan mayoritas muslim dan aktivitas dakwah tergolong tinggi, namun penyakit masyarakat juga masih tinggi. Karena itu, pihaknya menggelar focus group discussion (FGD) dalam pelatihan ini untuk mencari solusi efektivitas dakwah.

Pada hari kedua pelatihan, para peserta dari MAN dan pondok pesantren diuji kemampuan ceramahnya di atas podium dengan tema seputar manfaat media sosial, kepemimpinan, dan perilaku umat.

Zulfan dan Syahid menilai para calon dai masih perlu penguatan dalam ketangkasan berbicara, pendalaman materi, dan kesiapan mental.(mht).

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait