Breaking News
Memuat breaking news...

Ditabalkan Jadi Ginting Suka, Rico Waas: Marga Bukan Gelar Politik, Tapi Amanah Budaya

Redaksi
Redaksi
Rabu, 7 Oktober 2026 - 8.17 PM WIB
3
Ditabalkan Jadi Ginting Suka, Rico Waas: Marga Bukan Gelar Politik, Tapi Amanah Budaya
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (beritasore.co.id): Di Kota Medan yang dihuni lebih dari 15 suku bangsa, sebuah penabalan marga lebih dari sekadar prosesi adat. Ia adalah ikatan kekerabatan, legitimasi sosial, dan titipan tanggung jawab budaya.

Itu pula yang dirasakan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Saat menerima Panitia Mburo Ate Tedeh di Balai Kota Medan, Senin (6/10/2026), Rico menegaskan penabalan marga yang akan diterimanya bukan hanya kehormatan, melainkan amanah.

"Ini bukan hanya soal penabalan marga. Ada tanggung jawab khusus setelah saya ditabalkan, bagaimana saya memberikan perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat Karo dan ikut mempromosikan kebudayaan Karo ke kancah nasional," kata Rico.

Acara puncak Mburo Ate Tedeh sekaligus Penabalan Marga itu sendiri digelar 7 November 2026 di Gedung TP PKK Kota Medan, dikemas dalam suasana adat Karo yang khidmat.

Mengapa Marga Begitu Penting?

Bagi masyarakat Karo, marga adalah sistem identitas. Ia menentukan rakut sitelu (tutur kekerabatan), hak dan kewajiban dalam adat, hingga garis sejarah keluarga. Seseorang tanpa marga Karo dianggap belum memiliki tempat dalam struktur sosial adat tersebut.

Karena itu, pemberian marga kepada tokoh luar Karo adalah mekanisme tertinggi untuk penerimaan. Rico Waas nantinya akan ditabalkan menjadi Ginting Suka bere-bere Tarigan, sementara Ketua TP PKK Kota Medan Ny. Airin Rico Waas menjadi Beru Sembiring Pelawi.

Ketua Panitia Mburo Ate Tedeh, Muhammad Edison Ginting, menjelaskan acara tidak akan berhenti pada pemasangan marga.

"Kita akan menabalkan marga Wali Kota menjadi Ginting Suka bere-bere Tarigan. Berbagai unsur budaya akan ditampilkan, mulai dari alat musik tradisional Karo hingga prosesi adat, adu pengantin yang melibatkan tarian dan nyanyian serta manuk sangka atau makan nasi bersama," ujar Ginting yang hadir bersama Sekretaris Panitia Harry Indrawan Tarigan dan Bendahara Gema Halelu Isa Meliala.

Amanah yang Tidak Ringan

Rico Waas sadar, marga tanpa pemahaman budaya akan menjadi hampa. Ia pun menolak penabalan ini dilihat dari kacamata politik semata.

"Jangan sampai hanya terkesan melekatkan nama atau untuk kepentingan politik. Saya ingin ini menjadi bagian dari kekerabatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Karo, khususnya di Kota Medan," tegasnya.

Baginya, tanggung jawab itu konkret: memahami sejarah, bahasa, adat istiadat, hingga musik tradisional Karo. Ia ingin bisa menjelaskan, bukan hanya memakai.

"Saya ingin bukan hanya melihat, tetapi juga memahami. Karena bahasa dan budayanya berbeda, kita harus bisa menjelaskan mengenai suku Karo. Itu menjadi bagian dari tanggung jawab saya," ungkapnya.

Menautkan dengan Visi Medan untuk Semua

Tokoh masyarakat Karo, Roy Fakhrabi, menyebut momentum ini sengaja dirancang lebih besar. Sejumlah kepala daerah, tokoh adat, dan tokoh masyarakat lintas suku direncanakan hadir.

Kegiatan ini dinilai sejalan dengan konsep "Medan untuk Semua" yang diusung Pemko Medan. Medan sejak lama adalah ruang perjumpaan — Melayu, Batak Toba, Karo, Mandailing, Tionghoa, India, Jawa, dan lainnya. Keberagaman bukan sekadar data demografis, tapi kekuatan.

Dengan ditabalkannya Wali Kota sebagai keluarga besar Karo, masyarakat Karo ingin menegaskan eksistensinya sebagai bagian dari denyut Kota Medan, sekaligus memperkuat kolaborasi antarsuku.

Penabalan 7 November nanti diharapkan menjadi pintu: bukan akhir dari sebuah prosesi, melainkan awal dari kerja kebudayaan yang lebih luas. (MZ)

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait