Breaking News
Memuat breaking news...

21 Tahun MoU Helsinki, Wali Nanggroe: Perdamaian adalah Warisan Mahal yang Harus Dijaga

Redaksi
Redaksi
Jumat, 14 Agustus 2026 - 10.49 AM WIB
1
21 Tahun MoU Helsinki, Wali Nanggroe: Perdamaian adalah Warisan Mahal yang Harus Dijaga
Reading Comfort
adjust the font size

BANDA ACEH (beritasore.co.id): Menjelang peringatan 21 Tahun Hari Damai Aceh, Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar menyerukan kepada seluruh rakyat Aceh untuk tidak lengah menjaga perdamaian.

Dalam seruan resminya yang dikeluarkan di Banda Aceh, Jumat (14/8/2026), Wali Nanggroe menegaskan bahwa 15 Agustus bukan sekadar tanggal seremonial. Itu adalah titik balik sejarah Aceh.

“Menjaga Perdamaian, Merawat Persaudaraan, dan Membangun Masa Depan Aceh Bersama,” demikian tema yang diusung tahun ini.

Wali Nanggroe mengingatkan kembali bahwa pada 15 Agustus 2005, di Helsinki, Finlandia, Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan kebesaran jiwa memilih meletakkan senjata dan memilih dialog. MoU Helsinki itu lahir dari keberanian dan kebijaksanaan para pemimpin kedua belah pihak.

“MoU Helsinki bukan hanya mengakhiri konflik berkepanjangan. Ia membuka pintu rekonsiliasi, demokrasi, dan kehidupan yang lebih bermartabat bagi rakyat Aceh,” tegas Malik Mahmud.

Menurutnya, perdamaian juga yang membuka mata dunia untuk Aceh. Kepercayaan internasional yang lahir pasca-damai menjadi modal besar bagi Aceh untuk bangkit dari puing-puing tsunami, memulihkan ekonomi, sosial, hingga infrastruktur.

Selama 21 tahun, buah perdamaian itu nyata. Infrastruktur terbangun, ekonomi tumbuh, pendidikan dan layanan kesehatan meningkat, serta tata kelola pemerintahan semakin kuat. Aceh kini memiliki posisi yang lebih diperhitungkan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Namun, Wali Nanggroe mengakui perjalanan itu tidak tanpa ujian. Ia menyinggung bencana hidrometeorologi dahsyat pada 26 November 2025 yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh dan meninggalkan duka mendalam.

“Justru di saat bencana itu, semangat perdamaian terbukti menjadi kekuatan. Solidaritas, gotong royong, dan kepedulian antarsesama muncul sebagai modal kita untuk bangkit,” ujarnya.

Atas nama Lembaga Wali Nanggroe, ia menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada semua penjaga damai: para tokoh perdamaian, ulama, akademisi, mantan kombatan, aparat keamanan, pemerintah, organisasi masyarakat, pemuda, perempuan, hingga seluruh rakyat Aceh.

Di akhir seruannya, Wali Nanggroe menitipkan pesan keras.

“Perdamaian adalah warisan bersama dan amanah lintas generasi. Jangan mudah terprovokasi oleh pihak mana pun yang ingin menebar kebencian, memecah persaudaraan, dan mengusik stabilitas Aceh yang sudah kita rawat 21 tahun ini.”

Ia mengajak peringatan Hari Damai ke-21 pada 15 Agustus 2026 ini dijadikan momentum refleksi dan syukur, sekaligus komitmen bersama untuk mempercepat pembangunan Aceh yang adil, inklusif, dan bermartabat.(wmi).

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait