Breaking News
Memuat breaking news...

Wamen Pariwisata Dorong Wisata Bahari Nias Barat

Redaksi
Redaksi
Kamis, 10 September 2026 - 8.31 PM WIB
4
Wamen Pariwisata Dorong Wisata Bahari Nias Barat
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (beritasore.co.id): Bupati Nias Barat, Eliyunus Waruwu, melakukan audiensi ke Kementerian Pariwisata RI. Ia diterima langsung oleh Wakil Menteri (Wamen) Pariwisata, Ni Luh Puspa, di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Audiensi ini dilakukan untuk memperkuat langkah menjadikan wisata bahari Nias Barat sebagai salah satu penggerak baru ekonomi daerah. Eliyunus Waruwu memaparkan strategi pengembangan destinasi berbasis kepulauan, desa wisata, serta peningkatan kualitas infrastruktur dan sumber daya manusia.

Alhasil, sejumlah tindak lanjut konkret tercetus, mulai dari penyusunan proposal infrastruktur dasar pariwisata, pengembangan tiga desa sebagai pilot project, pengajuan bantuan sarana pendukung, peningkatan kapasitas SDM, hingga usulan agar Nias Barat dipertimbangkan dalam perwilayahan strategis pariwisata nasional.

Ni Luh Puspa menilai Nias Barat telah memiliki keunggulan karena pemerintah daerah sudah menentukan fokus utama pengembangan pariwisata, yakni wisata bahari.

“Saya lihat Pak Bupati sudah sangat fokus pada potensi, yaitu wisata bahari. Jadi tidak bicara yang lain dulu, fokus wisata bahari. Saya pikir separuh pekerjaan sebenarnya sudah selesai. Sekarang tinggal bagaimana mengimplementasikan, merealisasikan, dan menjadikannya action,” kata Ni Luh Puspa.

Menurut Ni Luh Puspa, pengembangan pariwisata Nias Barat selanjutnya perlu memastikan kesiapan tiga komponen utama, yakni atraksi, aksesibilitas dan amenitas, yang ditopang infrastruktur dasar seperti jalan, dermaga, air bersih, listrik, internet dan sanitasi.

"Atraksi Nias Barat sudah mulai terpetakan dengan baik," kata dia.

Namun, lanjut Ni Luh Puspa, peningkatan akses dan kualitas amenitas menjadi pekerjaan penting agar potensi bahari tersebut benar-benar dapat menjadi produk wisata yang siap dipasarkan.

Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah Bawa Integrated Creative Island, yang dirancang menghubungkan tiga desa dalam satu ekosistem pengalaman wisata.

Ni Luh Puspa mengingatkan agar ketiga desa tidak menawarkan pengalaman yang sama.

"Setiap desa perlu memiliki diferensiasi produk sehingga wisatawan memperoleh pengalaman berbeda ketika berpindah dari satu desa ke desa lainnya," ujarnya.

Pendekatan tersebut, kata Ni Luh Puspa, diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan.

"Tetapi juga bisa memperpanjang length of stay dan meningkatkan belanja wisatawan kepada masyarakat lokal," katanya.

Tiga Desa Jadi Pilot, Bukan Semua Dikerjakan Sekaligus

Dari 16 desa wisata yang dimiliki Nias Barat, pengembangan tahap awal diarahkan lebih fokus pada tiga desa dalam kawasan flagship Bawa Integrated Creative Island.

Kementerian menilai model pilot lebih efektif dibandingkan membangun seluruh desa wisata secara bersamaan.

"Jadi setelah model tersebut berhasil, pengembangannya dapat direplikasi ke desa-desa lainnya," tambah Ni Luh Puspa.

Eliyunus Waruwu pun menyambut pendekatan tersebut sebagai strategi yang sejalan dengan prinsip pembangunan daerah yang sedang dijalankan Pemkab Nias Barat.

“Tidak ada keberhasilan yang bisa kita capai tanpa bekerja dengan fokus. Kita tidak ingin mengerjakan semuanya sekaligus tetapi akhirnya tidak ada yang benar-benar berhasil. Kita bangun dulu satu model, kita pastikan berhasil, kemudian kita replikasi,” kata Eliyunus Waruwu.

Dalam pertemuan itu juga dibahas peluang penguatan infrastruktur dasar melalui Sustainable and Quality Tourism Development Program (SQTDP) yang sedang berproses bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan kementerian/lembaga terkait.

SQTDP memang diarahkan untuk mendukung pengembangan infrastruktur destinasi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Pemkab Nias Barat diminta segera menyampaikan proposal kebutuhan prioritas, terutama air bersih dan infrastruktur dasar yang secara langsung mendukung kesiapan destinasi.

Eliyunus Waruwu memastikan pemerintah daerah akan bergerak cepat menindaklanjuti peluang tersebut dengan menyiapkan proposal yang terukur dan berbasis kebutuhan destinasi.

Menurut dia, pembangunan pariwisata Nias Barat tidak boleh dimulai dari promosi besar-besaran ketika kondisi di lapangan belum siap.

“Jangan sampai promosi kita lebih maju daripada aktualitas di lapangan. Kita benahi dulu jalannya, dermaga, fasilitas, air, listrik, kebersihan dan destinasi. Setelah semuanya siap, baru promosinya kita dorong lebih kuat,” kata Eliyunus.

Selain infrastruktur dasar, Kementerian Pariwisata membuka peluang dukungan melalui Bantuan Pemerintah (Banper) berupa sarana dan peralatan pendukung destinasi maupun desa wisata.

Pemkab Nias Barat akan segera menyiapkan proposal Banper dengan fokus pada tiga desa pilot.

Dukungan pengembangan SDM pariwisata juga akan ditindaklanjuti melalui pelatihan hospitality, higienitas, pengelolaan homestay, pemanduan wisata, bahasa asing, pemasaran digital hingga keselamatan wisata bahari. Sinergi dengan pendidikan vokasi pariwisata, termasuk Politeknik Pariwisata Medan, juga menjadi salah satu peluang yang dibahas.

Di sisi pemasaran, Kementerian membuka akses pemanfaatan ekosistem digital Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia untuk memperluas jangkauan promosi Nias Barat. Namun, daerah harus aktif menyediakan storytelling, artikel, foto dan video berkualitas agar destinasi Nias Barat dapat diangkat melalui kanal promosi nasional maupun internasion

Tidak hanya itu, peluang strategis lainnya adalah pengusulan Nias Barat agar dipertimbangkan dalam perwilayahan strategis pariwisata nasional yang sedang disusun pemerintah.

Pemkab Nias Barat akan segera menyiapkan surat dan dokumen pendukung, termasuk potensi bahari, peta kawasan, kesiapan destinasi, pasar wisatawan, kebijakan daerah serta komitmen pembangunan.

Pemerintah daerah juga akan melakukan review RIPPARKAB agar kebijakan pengembangan pariwisata Nias Barat tetap relevan dan selaras dengan arah kebijakan nasional.

Pada audiensi itu, tak luput juga dibahas keberadaan kapal layar dan yacht asing yang selama ini berlabuh di antara pulau-pulau Nias Barat.

Eliyunus Waruwu mengungkapkan sejumlah kapal dapat berada berhari-hari di kawasan tersebut, sementara wisatawan beraktivitas surfing dan menikmati alam, tetapi transaksi ekonomi dengan masyarakat lokal masih sangat terbatas.

Selain itu terdapat persoalan sampah dan potensi kerusakan terumbu karang akibat penggunaan jangkar.

Kementerian pun menyarankan Pemkab Nias Barat mempelajari model pengelolaan seperti yang diterapkan di Raja Ampat, termasuk pedoman kunjungan kapal layar, penggunaan mooring buoy, pengaturan aktivitas wisata bahari dan instrumen perlindungan lingkungan.

Terkait hal ini, Pemkab Nias Barat sendiri akan terlebih dahulu mengkaji aspek kewenangan dan dasar hukumnya bersama pemerintah provinsi serta kementerian/lembaga terkait.

Sebagai Ketua FORKADA Kepulauan Nias, Eliyunus Waruwu juga mengusulkan pengembangan Grand Design Pariwisata Kepulauan Nias yang menghubungkan destinasi lintas kabupaten/kota.

Menurut dia, pariwisata tidak seharusnya dibatasi oleh wilayah administrasi. Destinasi di Nias Selatan, Nias Barat dan daerah lain perlu dirangkai menjadi satu pola perjalanan sehingga wisatawan mempunyai alasan untuk tinggal lebih lama di Kepulauan Nias.

“Orang datang ke Nias jangan hanya melihat satu kabupaten. Kita perlu menyusun paket wisata bersama, dari satu destinasi ke destinasi lain. Dengan begitu tiga hari tidak cukup, satu minggu mungkin belum cukup, dan mereka punya alasan untuk kembali,” ujarnya.

Ia menargetkan 2027 sebagai fase penguatan kesiapan destinasi, dengan harapan pada 2028 pariwisata Nias Barat mulai benar-benar naik kelas.

“Potensinya sudah jelas dan sinyal pasarnya juga sudah ada. Kita bukan memulai dari nol. Tinggal kita perkuat, kita kelola dengan baik, sehingga pada akhirnya pariwisata benar-benar memberi nilai tambah dan multiplier effect bagi pendapatan masyarakat,” kata mantan Rektor Universitas Nias itu.

Pemkab Nias Barat memastikan seluruh hasil audiensi akan segera diterjemahkan menjadi proposal, program dan langkah kerja konkret melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Pariwisata.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat Nias Barat dikenal, tetapi memastikan ketika wisatawan datang, masyarakat Nias Barat menjadi penerima manfaat utama dari pertumbuhan pariwisata tersebut," ujarnya.

Dalam pertemuan itu, turut hadir Sekretariat Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah I, Bambang Cahyo Murdoko, Asdep strategi dan Komunikasi Pemasaran Pariwisata, Firnandi Gufron, Asdep Manajemen Industri, Kedeputian Bidang Industri dan Investasi, Budi Supriyanto, Ketua Tim Kerja Event Wilayah Sumatera dan Kalimantan, Kusdiana Lusi Kartikasari, dan Perwakilan dari Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara. (KZ)

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait