Ulat Maggot Dan Azolla Dari Asian Agri Mengubah Kehidupan SuwitoUlat Maggot Dan Azolla Dari Asian Agri Mengubah Kehidupan Suwito

SIAPA sangka, gara-gara 'binatang 'menjijikkan' ulat maggot dan si rumput 'ajaib' azolla, kehidupan Suwito berubah drastis.
Pemuda ini memang sehari-hari sebagai petani dan peternak di daerahnya, Dusun Tiga Karang Nangka, Desa Perkebunan Tanah Datar, Kecamatan Datuk Perkebunan Tanah Datar, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara. Tapi petani biasa yang penghasilannya juga biasa seperti petani lain pada umumnya. Meski dia lulusan Fakultas Hukum Universitas Asahan, namun tekad sebagai petani dan juga peternak tak pernah luntur.
Ketika ditemui di rumahnya Selasa, 5 Mei 2026, Suwito lagi melihat ternak ulat maggotnya. Nampak ulat itu diam, tidak bergerak sama sekali seperti mati di kandangnya berukuran 2 x 2 meter. "Memang saat ini ulat maggot terlihat kayak mati. Padahal tidak, ulat ini lagi masa dormansi dan nanti hidup lagi jadi lalat," kata Suwito mengawali pembicaraannya.
Suwito menjelaskan budidaya ulat maggot -Black Soldier Fly (BSF) dengan nama latin Hermetia illucens adalah metode efisien mengurai sampah organik sekaligus menghasilkan pakan ternak tinggi protein.
Siklusnya meliputi penetasan telur (2-4 hari), pembesaran larva di biopon (15-20 hari), hingga panen. Pakan utamanya sampah organik (sayur/buah). Sebelah kandang ulat, ada kandang lalat (Insektarium) sebagai tempat lalat BSF kawin dan bertelur. Telurnya itu yang nanti jadi ulat maggot kembali.
Ulat yang sudah warna kecoklatan dipisah untuk jadi lalat. Setelah lalat kawin, bertelur, dia otomatis mati. Bangkai lalat diberikan kembali ke ternak.
"Jadi siklusnya seperti itu tidak ada yang dibuang sebagai sampah. Pokoknya tidak mencemari lingkungan," tegas Suwito.
Ulat maggot ini cukup ampuh untuk pakan semua ternak. Suwito memberikan ulat maggot buat ternak entoknya, jenis entok tronton atau jumbo. "Luar biasa pertumbuhannya, sehat, gemuk dan imunitasnya juga tinggi," ungkap Suwito.
Dalam 1 tahun, entok tronton beratnya bisa mencapai 6-7 kg per ekor, sedangkan entok lokal hanya 2-2,5 kg per ekor. Harga entok tronton mencapai Rp85.000 per ekor.
"Jelang lebaran kemarin saya baru jual 62 ekor. Alhamdulillah hasilnya," kata Suwito.
Maggot itu seperti pelet dan proteinnya lebih tinggi dari pelet. Kalau pelet itu proteinnya 20-25 persen, sedangkan maggot sampai 30-35 persen. Soal harga, jelas maggot paling murah karena dihasilkan sendiri. Kalau hemat ya 100 persen hemat. "Maggot kan kita hasilkan sendiri, terus jaga kualitas lingkungan lagi," jelasnya.
Budidaya ulat maggot yang dilakukan Suwito, dengan meletakkan ulat itu di satu kandang ukuran 2x2 meter. Di sebelahnya ada rumah lalat pakai jaring ukuran 2x2 meter dan keduanya berada didalam satu kandang besar ukuran 2x4 meter. Terlihat sekilas maggot seperti belatung. Tapi beda, kalau belatung dua ujungnya putih. Sedangkan maggot tidak.
"Saya kasi ikan busuk 1 kg, langsung habis dimakannya," jelas Suwito.
Kandang juga tidak berbau karena maggot memakan habis semua sampah. Sisa makanan, sayuran, nasi dan sebagainya. Tapi harus dilembutkan dulu kayak bubur karena ulat maggot menghisap bukan memakan. Maggot tak punya gigi.
Dia menuturkan kalau dulu beli pakan ternak bisa nombok alias tak balik modal. "Tapi sekarang tidak lagi dan enaknya nggak ada bau amis," jelasnya.
Wito, panggilan akrabnya juga pernah gagal memelihara ulat maggot .Satu plot maggot mati semua. Maggot itu walau makanan sisa tapi harus digiling halus.Memang kalau perawatan tak tepat, apalagi makanan sisa jadi karbondioksida, panas dan matilah semua maggot itu.
Dia membuat kandang ayam dan dibawahnya maggot. Kotoran ayam yang jatuh ke bawah habis dilahap maggot.
"Kalau belajar terus maka ini bisa jadi pekerjaan utama untuk usaha maggot," kata Suwito.
Dia menuturkan ilmu budidaya maggot didapat dari tangan baik Asian Agri, yang kebunnya berada di sekitar desanya yakni PT Supra Matra Abadi (PT SMA). Saat itu ada keluhan peternak yang kesulitan mahalnya harga pakan.
Suwito mengisahkan awal dia melakukan budidaya maggot dan azolla. Pada Mei 2023, dia disuruh Jarkasih, Kepala Desa Perkebunan Tanah Datar, Kecamatan Datuk Perkebunan Tanah Datar, Kabupaten Batubara untuk ikut pelatihan. pakan ternak alternatif (ulat maggot dan azolla) yang digelar Asian Agri di Kerinci, Provinsi Jambi. Asian Agri memang mengajak masyarakat sekitar kebunnya, termasuk Suwito.
Dari pelatihan itu, diharapkan Suwito dapat mengajarkan kembali ilmu pakan ternak alternatif kepada masyarakat sekitar dan polanya seperti itu. Sehingga masyarakat yang petani dan peternak di sekitar kebun Asian Agri dapat berkembang ekonominya. Bahkan menjadikannya sebagai usaha berkelanjutan dengan lingkungan yang bersih.
"Tujuannya untuk mendorong usaha mikro kecil menengah masyakarat agar naik kelas. Semua didanai oleh Asian Agri," ungkap Suwito.
Pelatihan di Kerinci, salah satu kebun Asian Agri. Sebagai pembicara Riri Ningsih, salah seorang pengusaha ulat maggot dan peternak sukses. Pelatihan sehari penuh itu memberikan inspirasi positif. "Semua peserta termasuk saya berkomitmen untuk berkembang dan menjadikan budidaya ulat maggot dan azolla sebagai usaha," tegasnya.
Kalau awalnya, ulat maggot untuk pemakaian sendiri, jelas Suwito, ke depan dia bercita-cita menjadikan ulat maggot untuk dijual dalam bentuk pelet. "Seperti orang Malaysia yang usaha ini penghasilannya sangat besar," jelas Suwito.
Setelah pelatihan, seluruh peserta dikasi oleh -oleh maggot gongseng. Bisa juga dimakan manusia, tapi Suwito memberikan ke ternaknya, ke kucing, entok, ayam dan ikan di aquarium. Sehat dan gemuk semua.
Suwito pulang kembali ke rumah. Tapi dia belum berbuat apa-apa dari pelatihan itu. Sebulan kemudian, tim dari Asian Agri datang lagi ke rumahnya. "Saya bilang belum buat kandang untuk ulat maggot karena biayanya cukup besar. Alhamdulillah, saya dibantu untuk buat kandang dan sampai sekarang terus dibina Asian Agri," jelasnya.
"Ada tanggung jawab moral saya harus berbuat lebih dan mengajak masyarakat untuk berbuat serupa," tuturnya lagi.
Dia kemudian membeli bibit ulat maggot berupa telur 20 gram, harganya 1 gram Rp10..000 di daerah yang berbatasan dengan Batubara. "Saya kembangkan sampai saat ini," katanya.
"Dengan binatang menjijikkan ini saya bisa dikenal Asian Agri. Ternyata hidayah itu dari binatang menjijikkan," kata Suwito lagi.
*Azolla
Suwito memaparkan ketika pelatihan di Kerinci, Asian Agri tidak hanya menyodorkan ulat maggot, tapi juga azolla sejenis paku-pakuan sebagai pakan ternak alternatif.
Budidaya azolla (Azolla microphylla) adalah alternatif pakan ternak (unggas, ikan, entok) berprotein tinggi (25-35 persen) yang sangat mudah, murah, dan cepat panen.
Suwito menyebut dengan modal utama kolam terpal/tanah, air, dan pupuk kandang, azolla dapat dipanen setiap 7-10 hari sekali setelah tebar bibit, atau panen harian dengan teknik rotasi.
Dia membuat kolam untuk azolla 2 x 4 meter, diisi lumpur atau tanah setebal 5-10 cm dan air setinggi 10-20 cm. Dia menebar pupuk kandang (kotoran kambing atau ayam yang sudah dihaluskan (sekitar 0.5-1 kg/m²) untuk nutrisi awal.
Setelah itu, Suwito menebar bibit azolla segar dengan kepadatan 200-300 gram/m² atau sekitar 30 persen dari luas permukaan kolam tapi pastikan kena sinar matahari. Azolla dapat dipanen 1-2 minggu setelah tebar, saat permukaan kolam penuh dan tebal. Sisakan 30-50 persen azolla di kolam untuk perkembangbiakan kembali.
"Perkembangbiakannya cepat kali," jelasnya.
Suwito menyebut azolla sebagai pakan ternak alternatif, aplikasi ke ternak bisa dengan mencampur azolla ke makanan kebiasaan ternak. Misalnya sapi makan rumput, bisa dicampur dengan azolla. "Bisa juga hanya diberi makan azolla, kalau jumlah azollanya banyak," jelas Suwito.
Tumbuhan azolla daunnya mengapung di permukaan, sedangkan akarnya menggantung di bawah air. Sering ditemukan pada genangan air, selokan, kolam, persawahan atau sungai.
Banyak yang tidak tahu azolla, padahal tumbuhan ini sangat bermanfaat sehingga sering disebut gulma atau tanaman pengganggu.
Kandungan protein azolla tinggi 25-30 persen , asam amino esensial, vitamin A, vitamin B12 dan betacarotene. Memiliki kandungan lignin yang rendah sehingga mudah dicerna oleh ternak. Oleh karena itu tumbuhan azolla cocok dimanfaatkan untuk campuran pakan ternak.
Azolla menurut Suwito, sebagai salah satu pengganti pakan yang paling ekonomis dan efisien untuk ternak. Dapat sebagai pakan organik rutin untuk para peternak. "Selain murah, azolla juga meningkatkan berat ternak. "Produksi telur ayam dan itik juga meningkat," katanya.
Suwito menyebut Asian Agri memberikan fasilitas untuk budidaya maggot dan azolla. Dukungan perusahaan besar kelapa sawit di daerah Tanah Datar ini harus dimanfaatkan. "Bagaimana masyarakat bisa buat usaha dan menjadi UMKM untuk membantu perekonomiannya," jelas Suwito.
Kades Perkebunan Tanah Datar, Kecamatan Tanah Datar, Kabupaten Batubara Jarkasih menuturkan Asian Agri meminta 1 orang warganya untuk ikut pelatihan pakan ternak alternatif.
"Saya utus Suwito. Alhamdulillah Suwito antusias. Awalnya usaha pakan ternak alternatif itu sempat diketawain karena ulat maggot dan azolla," terang Kades.
"Ada datang 1-2 orang melihat kolam azolla Suwito. Setelah tahu hasilnya, apalagi dengan lingkungan yang bersih, kini banyak warga yang tertarik," kata Kades Jarkasih.
"Kami ucapkan terimakasih banyak kepada Asian Agri yang telah membantu warga desa bangkit," ungkap Kades.
Ia berharap ke depan kerja sama ini terus berkesinambungan antara Pemerintah Desa dengan Asian Agri.
Menurut Kades, Suwito mengembangkan bahan makanan untuk pakan ternak yang belum begitu banyak diketahui warga. "Sedangkan saya kembangkan kolam bioplok," jelasnya.
Ada empat kolam kapasitas 5.000 ekor jenis nila Bangkok yang kini terus berkembang. Jadi nanti pakannya dari Wito.
"Apabila ini berkembang akan disampaikan ke masyarakat," kata Jarkasih.
Kades mengucapkan terimakasih kepada Asian Agri yang telah berbuat banyak kepada masyarakatnya. Keberadaan Asian Agri sangat membantu masyarakat. Selain banyak menyerap tenaga kerja dari desanya, kepedulian Asian Agri untuk meningkatkan perekonomian warga terus berlangsung.
"Kami berharap Asian Agri makin sukses seiring dengan meningkatnya perekonomian masyarakat atas bantuan perusahaan tersebut," ungkap Kades Jarkasih.
Prama Yudha Amdan, Head of Corporate Communications Asian Agri didampingi stafnya di Medan Lidya Veronica menegaskan komitmen perusahaan terhadap budidaya berkelanjutan.
*Komitmen berkelanjutan
Ia menekankan pengelolaan sawit yang bertanggung jawab, di mana limbah dapat diolah kembali menjadi pupuk atau energi, mencerminkan prinsip zero waste.
Komitmen berkelanjutan: menegaskan komitmen perusahaan terhadap budidaya berkelanjutan, peningkatan produktivitas tanpa pembukaan lahan baru, dan program peremajaan sawit.
Pandangan strategis perusahaan terkait keberlanjutan industri sawit, ekonomi sirkular, dan komitmen Asian Agri terhadap praktik budidaya bertanggung jawab serta kolaborasi dengan media. (laswiyati Wakid)







Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda