PHK Industri Tekstil Dan Sepatu Imbas Resesi GlobalPHK Industri Tekstil Dan Sepatu Imbas Resesi Global

JAKARTA (Berita): Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha indonesia (Apindo) Bob Azam menyampaikan, PHK yang terjadi pada industri tekstil dan sepatu oreintasi ekspo ke Eropa, merupakan imbas dari gejolak resesi global yang mulai melanda.
Dia menerangkan, ancaman resesi bisa saja terjadi yang akan sangat berdampak, sehingga menyebabkan PHK massal di sektor tersebut.
Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah mengungkapkan kekhawatiran akan ancaman resesi global pada tahun 2023, tentu akan berdampak kepada sektor ketenagakerjaan di Indonesia.
Salah satunya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.
Hingga kini sektor ketenagakerjaan di Indonesia masih merasakan dampak dari pandemi Covid-19.
Di sisi lain, sektor ketenagakerjaan juga sedang menghadapi revolusi industri yang melahirkan otomasi dan disrupsi di berbagai bidang yang secara sangat signifikan mengubah lanskap pasar kerja di Indonesia.
Sementara itu, Indeks manufaktur Indonesia pada Oktober 2022 berada di level 51,8 atau turun dari 53,7 dibandingkan bulan sebelumnya.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan kondisi global turut berkontribusi terhadap indeks manufaktur dalam negeri.
Selanjutnya, tantangan industri manufaktur juga dibayangi harga input tinggi yang dapat menurunkan daya saing produk. Agus juga mengatakan, selain bahan baku yang semakin mahal, pasokannya juga masih belum lancar.
Dia menuturkan, untuk menjaga optimisme sektor industri, perlunya upaya antisipasi terhadap kondisi ekonomi global yang sedang lesu, salah satunya melalui kemitraan antara industri skala besar dengan industri kecil dan menengah.
Dia menambahkan, untuk mengurangi harga input, pemerintah juga perlu berkoordinasi dan mengambil kebijakan-kebijakan yang mendukung. Selain itu, demi menjaga demand atau permintaan terhadap produk dalam negeri, Agus menilai pemerintah perlu memberikan dukungan dalam bentuk pemberian insentif maupun stimulus, seperti yang pernah dilakukan pada awal pandemi Covid-19.
Sementara terkait produk ekspor yang mulai terdampak kondisi ekonomi negara tujuan, Agus mengatakan perlu adanya penguatan pasar dalam negeri yang mampu menyerap produk-produk tersebut termasuk dengan cara pengoptimalan belanja pemerintah melalui program peningkatan produk dalam negeri (P3DN). (agt)







Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda