Breaking News
Memuat breaking news...

Melalui Program ESG, Sharp Indonesia Siapkan Lulusan SMK Kompeten Siap Kerja

Redaksi
Redaksi
Rabu, 21 Oktober 2026 - 10.28 PM WIB
6
Melalui Program ESG, Sharp Indonesia Siapkan Lulusan SMK Kompeten Siap Kerja
Perwakilan Sharp menyerahkan 2 unit AC untuk program Sharp class ke SMKN 1 Cikarang Barat. beritasore.co.id/ist
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (beritasore.co.id): Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman teori untuk memasuki dunia kerja.

PR & Brand Communication Department Head PT Sharp Electronics Indonesia Pandu Setio menyebutkan dalam siaran persnya diterima Rabu (21/10/2026).

Keterampilan teknis, ketelitian, kedisiplinan, dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi bekal penting agar mereka dapat beradaptasi dengan kebutuhan industri.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, PT Sharp Electronics Indonesia kembali menghadirkan Sharp Class, program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan praktik industri.

Melalui program ini, sebanyak 25 siswa terpilih SMKN 1 Cikarang Barat mengikuti pelatihan teori dan praktik audio video selama tiga bulan. Pelaksanaan program ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Sharp Indonesia dan SMKN 1 Cikarang Barat pada 21 Oktober 2026.

Sharp Class dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar siswa melalui kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Peserta tidak hanya diarahkan untuk memahami materi teknis, tetapi juga mengenali penerapan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan sehari-hari.

Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai standar kerja profesional dan keterampilan yang perlu mereka kuasai sebelum lulus.

Pandu Setio, PR & Brand Communication Department Head PT Sharp Electronics Indonesia, mengatakan bahwa keterlibatan industri dalam pendidikan vokasi perlu memberikan manfaat yang nyata bagi siswa, terutama dalam mempersiapkan mereka menghadapi perubahan dan tuntutan dunia kerja.

Bagi Sharp, mendukung pendidikan vokasi bukan sekadar memberikan pelatihan tambahan kepada siswa. "Kami ingin membantu menjembatani apa yang mereka pelajari di sekolah dengan kebutuhan yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia kerja," katanya.

"Dengan bekal keterampilan yang relevan dan pemahaman tentang lingkungan profesional, kami berharap mereka lebih percaya diri dalam mengambil peluang dan membangun karier setelah lulus," ujar Pandu.

Bidang audio video menjadi fokus Sharp Class di SMKN 1 Cikarang Barat. Selama tiga bulan, peserta mengikuti pembelajaran teori dan praktik yang bertujuan memperkuat pemahaman teknis serta kemampuan menerapkan pengetahuan untuk menangani persoalan.

Dalam industri elektronik, penguasaan teknis merupakan fondasi penting. Namun, kualitas seorang tenaga kerja juga ditentukan oleh ketelitian, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, dan tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan.

Bagi teknisi, misalnya, kemampuan memahami persoalan perangkat perlu diimbangi dengan ketepatan dalam menangani masalah serta pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan.

Karena itu, pendidikan berbasis industri perlu memberi ruang bagi siswa untuk mengenal lebih dekat standar profesi yang akan mereka hadapi. Pengalaman belajar seperti ini dapat membantu mereka memahami bahwa kesiapan kerja tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan atau menangani perangkat, tetapi juga cara berpikir dan bersikap ketika menjalankan tanggung jawab profesional.

Lise Tiasanty, Customer Satisfaction Division Head PT Sharp Electronics Indonesia, menekankan pentingnya mengembangkan keterampilan teknis yang berjalan seiring dengan kualitas pelaylSeorang teknisi perlu memiliki pemahaman teknis yang baik, tetapi itu saja tidak cukup. Ketelitian, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan juga menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Melalui Sharp Class, kami ingin memperkenalkan perspektif tersebut sejak siswa masih berada di bangku sekolah, sehingga mereka memiliki gambaran yang lebih utuh tentang profesi dan standar kerja yang akan dihadapi,” ungkap Lise.

Selama tiga bulan, peserta Sharp Class mendapatkan pembelajaran teori dan praktik audio video yang mencakup pengenalan komponen elektronik, pemeriksaan fungsi perangkat, identifikasi gangguan, serta dasar-dasar perawatan dan perbaikan. Pelatihan yang dibimbing oleh tenaga profesional Sharp Indonesia ini juga dilengkapi dengan pembekalan etika kerja, kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, dan kepemimpinan. Perpaduan materi teknis dan nonteknis tersebut menjadi bekal penting bagi siswa untuk memahami standar kerja sekaligus mengenali tanggung jawab yang akan dihadapi di dunia industri.

Seorang teknisi harus memiliki kemampuan memperbaiki perangkat yang diimbangi dengan sikap profesional saat berhadapan dengan pelanggan. Karena itu, siswa juga diperkenalkan pada pentingnya berkomunikasi dengan baik, memahami kebutuhan pelanggan, dan memberikan pelayanan yang tepat. Melalui kombinasi teori, praktik, dan pembentukan sikap kerja ini, Sharp Class bertujuan mempersiapkan lulusan SMK yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu bekerja secara profesional dan beradaptasi dengan kebutuhan industri.

Bagi SMKN 1 Cikarang Barat, keterlibatan industri membuka kesempatan untuk memperkaya proses pembelajaran sekaligus memperluas wawasan siswa mengenai kebutuhan profesi yang mereka minati. Kolaborasi ini juga menjadi ruang bagi sekolah untuk menghubungkan pembelajaran di kelas dengan perkembangan keterampilan yang dibutuhkan di lapangan. Kolaborasi dengan industri memberi kesempatan bagi siswa untuk melihat langsung bagaimana pengetahuan yang diperoleh di sekolah diterapkan dalam pekerjaan.

Melalui Sharp Class, siswa dapat memperdalam keterampilan, melatih ketelitian, dan mengenal standar kerja yang dibutuhkan industri. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk menentukan langkah setelah lulus, baik memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pengembangan keterampilan, ujar B. Agus Wimbadi, SPd., M.Pd., Kepala SMKN 1 Cikarang Barat.

Kolaborasi semacam ini juga memiliki arti penting bagi pengembangan pendidikan vokasi di daerah. Keterlibatan perusahaan dapat memperkaya perspektif pembelajaran, sementara sekolah berperan memastikan siswa memperoleh dasar pengetahuan yang kuat untuk mengikuti perkembangan kebutuhan industri.

Sinergi antara dunia pendidikan dan industri juga berperan dalam memperkuat kualitas pendidikan vokasi. Keterlibatan perusahaan dalam proses pembelajaran membantu siswa mengenali kebutuhan dunia kerja sekaligus membuka wawasan mengenai beragam peluang karier.

Kolaborasi seperti ini diharapkan terus berkembang agar lulusan SMK memiliki keterampilan yang relevan, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan lebih siap menghadapi persaingan kerja, ungkap Rina Parlina, S.I.P., M.M., Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jawa Barat.

Sharp Class pertama kali diperkenalkan pada 2012 sebagai bagian dari komitmen Sharp Indonesia dalam mendukung pengembangan pendidikan vokasi. Hingga Oktober 2026, program ini telah diikuti oleh 948 siswa. Sebanyak 97 lulusan di antaranya telah bergabung sebagai karyawan Sharp Indonesia, sementara alumni lainnya berkarier di perusahaan nasional dan internasional maupun mengembangkan usaha mandiri.

Data tersebut menggambarkan beragam jalur yang dapat ditempuh peserta setelah mengikuti program. Bagi Sharp Indonesia, nilai Sharp Class tidak semata-mata diukur dari jumlah alumni yang kemudian bekerja di perusahaan, tetapi juga dari kesempatan bagi siswa untuk memperkuat keterampilan, mengenali potensi diri, dan mempersiapkan langkah berikutnya secara lebih terarah.

Program ini telah dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Aceh, Malang, Denpasar, Banjarmasin, dan Padang, serta sejumlah daerah lainnya di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Pelaksanaan di SMKN 1 Cikarang Barat melanjutkan upaya Sharp Indonesia untuk memperluas akses pembelajaran yang terhubung dengan kebutuhan industri.

Ke depan, pengembangan Sharp Class dapat terus diperkuat melalui evaluasi hasil belajar, pemantauan perkembangan alumni, serta penjajakan bentuk kolaborasi lanjutan dengan sekolah dan mitra industri. Apabila tersedia dalam pelaksanaan program, kegiatan seperti kunjungan industri, pendampingan karier, sertifikasi keterampilan, atau kesempatan magang dapat menjadi nilai tambah yang membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Sharp Indonesia berharap Sharp Class dapat terus menjadi bagian dari upaya bersama dalam menyiapkan sumber daya manusia yang terampil, adaptif, dan siap menghadapi perkembangan industri.

Melalui hubungan yang lebih erat antara sekolah dan dunia usaha, pendidikan vokasi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami bidang keahliannya, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan karier, melanjutkan pendidikan, maupun membangun usaha mandiri.

“Kami mengapresiasi Sharp Class yang membuka akses bagi siswa SMK untuk belajar langsung dari dunia industri. Kami berharap inisiatif ini dapat menjangkau lebih banyak sekolah, sehingga kesempatan memperoleh pembelajaran berkualitas semakin merata” ungkap Dr. H. Edy Purwanto, M.M, Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (rel/wie)

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait