Mahasiswa USU Kembangkan Kemasan Ramah Lingkungan Jaga Mutu Cabai PascabanjirMahasiswa USU Kembangkan Kemasan Ramah Lingkungan Jaga Mutu Cabai Pascabanjir

MEDAN (beritasore.co.id): Persoalan kehilangan hasil setelah panen masih menjadi tantangan bagi komoditas hortikultura, termasuk cabai merah. Perubahan cuaca dan bencana hidrometeorologi seperti banjir dapat mempercepat penurunan kualitas cabai sekaligus memengaruhi harga di pasaran.
Melihat persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan teknologi kemasan ramah lingkungan yang ditujukan untuk membantu mempertahankan mutu cabai merah dalam kondisi penyimpanan lembap.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) oleh mahasiswa Program Studi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU.
Penelitian ini mengangkat judul “Pengembangan Edible Film Kitosan Nanofiber Selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ekstrak Kulit Rambutan sebagai Kemasan Aktif Cabai Merah Pascabanjir.”

Tim yang mengembangkan penelitian tersebut diketuai Inggrid Auralya Sandy, bersama Novaldo Imanuel Haloho dan Crisya Lestari Siregar dari Program Studi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi USU, serta anggota tim dari FMIPA USU. Penelitian ini berada di bawah bimbingan dosen Fakultas Vokasi USU, Juli Novita Sari, S.Si., M.Si.
Memanfaatkan Limbah Agroindustri
Menurut Inggrid, gagasan penelitian berangkat dari ketersediaan limbah agroindustri yang cukup melimpah di Sumatera Utara. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan kulit rambutan yang selama ini belum banyak dimanfaatkan kemudian dipilih sebagai bagian dari bahan pengembangan kemasan aktif.
Tim memadukan kitosan yang berasal dari cangkang udang dengan nanofiber selulosa TKKS sebagai bahan penguat. Sementara itu, ekstrak kulit rambutan digunakan karena mengandung senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba alami.
“Kami memanfaatkan kitosan dari cangkang udang yang dikombinasikan dengan nanofiber selulosa dari limbah TKKS sebagai bahan penguat, serta ekstrak kulit rambutan yang kaya akan senyawa antioksidan dan antimikroba alami,” ujar Inggrid.
Pemanfaatan bahan-bahan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjaga kualitas cabai, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai guna limbah yang berasal dari sektor agroindustri.
Diuji pada Kondisi Pascabanjir
Setelah melalui sejumlah tahapan penelitian di laboratorium, tim memperoleh formulasi edible film yang dinilai paling baik dengan penambahan ekstrak kulit rambutan sebesar 1 persen. Lapisan tersebut kemudian diaplikasikan pada cabai merah untuk melihat kemampuannya mempertahankan kualitas selama penyimpanan.
Pengujian dilakukan selama 15 hari dengan kondisi kelembapan relatif (relative humidity/RH) minimal 85 persen untuk menyerupai kondisi penyimpanan lembap yang dapat terjadi setelah banjir.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan edible film mampu membantu mempertahankan kondisi cabai selama masa penyimpanan. Susut bobot cabai tercatat sebesar 12 persen, lebih rendah dibandingkan cabai tanpa perlakuan yang mencapai 21,5 persen.
Selain mengurangi susut bobot, lapisan tersebut juga menunjukkan kemampuan dalam menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk serta membantu mempertahankan kesegaran dan warna merah cabai hingga hari ke-15.
Dorong Pemanfaatan Teknologi Berbasis Bahan Lokal
Bagi tim, penelitian ini tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan PKM-RE, tetapi juga menjadi langkah untuk mengembangkan solusi yang dapat menjawab persoalan pascapanen dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di daerah.
Teknologi kemasan aktif berbasis biomassa lokal tersebut diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk membantu petani dan pelaku rantai pasok mempertahankan mutu cabai, terutama ketika distribusi dan penyimpanan menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Inggrid berharap penelitian yang mereka lakukan dapat terus dikembangkan dan membawa tim melangkah ke tahap berikutnya. “Tim kami juga berharap penelitian ini bisa mengantarkan kami ke PIMNAS 39 dan menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi,” jelasnya.
Penelitian PKM-RE tersebut didampingi Juli Novita Sari, S.Si., M.Si. Tim juga memperkenalkan pengembangan inovasi SPICEFILM melalui akun media sosial @spicefilm.team. (edr)











Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda