Breaking News
Memuat breaking news...

Kinerja Dan Intermediasi Sektor Jasa Keuangan Terjaga

Redaksi
Redaksi
Senin, 7 September 2026 - 9.37 PM WIB
3
Kinerja Dan Intermediasi Sektor Jasa Keuangan Terjaga
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (atas tengah) bersama jajaran Anggota Dewan Komisioner pada konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) secara daring Senin (7/9/2026) sore. beritasore.co.id/ist
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (beritasore.co.id): Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 Agustus 2026 menilai Sektor Jasa Keuangan (SJK) stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global.


Kepala Direktorat Komunikasi Publik OJK - Sekar Putih Djarot menyebutkan dalam siaran persnya diterima melalui Kantor OJK Provinsi Sumatera Utara Senin (7/9/2026).

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi pada konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) yang dihadiri wartawan ekonomi dari seluruh Indonesia secara daring (zoom) juga menyebutkan Senin (7/9/2026). Saat itu, Friderica didampingi Anggota Dewan Komisioner OJK lainnya.

Friderica mengatakan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah tetap tinggi seiring berlarutnya konflik di Iran dan masih tertutupnya Selat Hormuz. Gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas.

"Sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi," kata Friderica.

Ia menyebut rekanan inflasi diperberat oleh El Nino yang berkepanjangan dan berdampak pada kekeringan serta kebakaran hutan di

berbagai kawasan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gagal panen dan kenaikan harga pangan global.


Momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi, tercermin dari mayoritas negara yang mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada triwulan II-

2026.

Menurutnya, di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi turun dan berada di bawah ekspektasi, disertai pasar tenaga kerja yang termoderasi dan inflasi yang tetap tinggi meski dalam tren menurun. Di Tiongkok, pertumbuhan PDB triwulan II-2026

melambat menjadi 4,3 persen yoy, dengan data terkini mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi pemerintah negara maju melanjutkan kenaikan didorong meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang tetap restriktif.

Aliran keluar dana nonresiden di pasar keuangan global juga masih terjadi, khususnya pada beberapa negara emerging markets.


Di sisi domestik, katanya, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 tercatat tetap kuat dengan tumbuh sebesar 5,29 persen yoy (triwulan I-2026: 5,61 persen), didukung investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang kuat juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan.

Inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen yoy dan aktivitas manufaktur berada pada zona kontraksi di level PMI 49,8. Perkembangan ketahanan eksternal perekonomian termoderasi seiring berlanjutnya defisit neraca perdagangan di Juni 2026 dan meningkatnya defisit transaksi berjalan triwulan II-2026 menjadi 3,3 persen dari PDB. (wie)

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait