Intermediasi Perbankan MeningkatIntermediasi Perbankan Meningkat

JAKARTA (beritasore.co.id): Intermediasi perbankan kembali meningkat, disertai dengan ketahanan perbankan yang tetap terjaga.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti didampingi Dewan Gubernur BI lainnya mengatakan usai RDG secara online (YouTube dan Instagram) Rabu (23/9/2026).
Siaran pers Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso yang dirilis di website BI menyebutkan Kamis (24/9/2026).
Kredit perbankan pada Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen (yoy), meningkat dari pertumbuhan pada Juli 2026 sebesar 13,58 persen (yoy). Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan kredit didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Agustus 2026 masing-masing tumbuh sebesar 25,11 persen (yoy), 11,45 persen (yoy), dan 5,07 persen (yoy).
Perkembangan positif intermediasi perbankan didukung oleh kebijakan makroprudensial longgar yang terus ditempuh Bank Indonesia melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Hingga minggu pertama September 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp461,2 triliun dengan alokasi pada KLM financing channel sebesar Rp338,2 triliun, serta alokasi pada KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) sebesar Rp123,0 triliun.
Selain itu, minat penyaluran kredit (lending appetite) juga masih longgar serta didukung pertumbuhan DPK yang mencapai 10,94% (yoy). Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen.
Sementara itu, ketahanan perbankan juga tetap kuat dan mendukung pertumbuhan kredit. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Juli 2026 tercatat tinggi sebesar 23,84 persen.
Selain itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah di level 2,10 persen (bruto) dan 0,81 persen (neto) pada Juli 2026. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat stabil 23,04 persen pada Agustus 2026.
Destry menegaskan ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. (wie)









Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda