Emas Perhiasan, Komoditi Paling Tinggi Sumbang InflasiEmas Perhiasan, Komoditi Paling Tinggi Sumbang Inflasi

MEDAN (beritasore.co.id): Pada Juli 2026, terjadi inflasi year-on-year (y-on-y) di Provinsi Sumatera Utara sebesar 4,20 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,47, sumbangan terbesar dari emas perhiasan.
Statistisi Ahli Utama Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara Misfaruddin menyebutkan terkait inflasi Juli 2026 kepada wartawan Selasa (4/8/2026).
Misfaruddin memaparkan sejumlah komoditi sebagai pemicu atau penyumbang terjadinya inflasi di Sumut dan delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di daerah ini. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Juli 2026, antara lain: emas perhiasan sebesar 0,46 persen; cabai merah sebesar 0,37 persen; cabai rawit sebesar 0,32 persen; tomat sebesar 0,23 persen; bensin sebesar 0,22 persen; minyak goreng sebesar 0,16 persen; angkutan udara sebesar 0,14 persen; akademi/perguruan tinggi sebesar
0,11 persen.
Kemudian ikan kembung/ikan gembung/ ikan banyar/ikan gembolo/ ikan aso-aso dan ikan dencis masing-masing sebesar 0,10 persen; beras dan telepon seluler masing-masing sebesar 0,08 persen. Juga ikan tongkol/ ikan ambu-ambu dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) masing-masing sebesar 0,07 persen; daging ayam ras, laptop/notebook, ayam goreng, dan udang basah masing-masing sebesar 0,06 persen; serta wortel dan mie masing-masing sebesar 0,05 persen.
Misfaruddin menambahkan delapan kota IHK di Sumut mengalami inflasi pada Juli 2026. Kabupaten Labuhanbatu IHK 117,66, inflasi 5,52 persen Year-on-Year (yoy) dan 0,15 persen Month-to-Month (mtm). Karo IHK 113,17 inflasi 3,83 persen yoy dan 0,29 persen mtm, Deliserdang IHK 113,69, inflasi yoy 3,90 persen dan 0,40 persen mtm.
Kota Sibolga IHK 115,96, inflasi 5,04 persen dan 0,08 mtm, Pematangsiantar IHK 116,48, inflasi 4,76 persen yoy dan 0,31 persen mtm. Medan IHK 112,50, inflasi 4,11 persen yoy dan 0,05 persen mtm. Padangsidimpuan IHK 114,95, inflasi 4,35 persen dan 0,19 persen mtm, Gunungsitoli IHK 116, inflasi 6,36 persen yoy dan 0,58 persen mtm
Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,36 persen dengan IHK sebesar 116,38 dan terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 3,83 persen dengan IHK sebesar 113,17.
Misfaruddin menyebut Tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) Provinsi Sumatera Utara Juli 2026 sebesar 0,19 persen dan tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) Provinsi Sumatera Utara Juli 2026 sebesar 1,09 persen. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Sumatera Utara, pada Juli terjadi inflasi y-on-y sebesar 4,20 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,90 pada Juli 2025 menjadi 113,47 pada Juli 2026.
Sedangkan tingkat inflasi m-to-m sebesar 0,19 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 1,09 persen. Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebelas indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,95 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,37 persen.
Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar0,81 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,46 persen, kelompok kesehatan sebesar 2,51 persen, kelompok transportasi sebesar 5,21 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 3,37 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,95 persen.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: bawang merah sebesar 0,28 persen; daging babi, kacang panjang, dan sawi putih/pecay/pitsai masing-masing sebesar 0,02 persen; serta detergen cair, kemeja panjang katun pria, sekolah menengah atas, popok bayi sekali pakai/diapers, pembersih lantai, sabun detergen bubuk, dan bawang bombay masing-masing sebesar 0,01 persen.
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m pada Juli 2026, antara lain: cabai rawit sebesar 0,17 persen; beras sebesar 0,07 persen; tomat sebesar 0,06 persen; bensin sebesar 0,05 persen; daging ayam ras dan kangkung masing-masing sebesar 0,03 persen; bayam dan jengkol masing-masing sebesar 0,02 persen; serta cabai hijau, semen, ikan kembung/ikan gembung/ ikan banyar/ikan gembolo/ ikan aso-aso, wortel, brokoli, kentang, dan biskuit masing-masing sebesar 0,01 persen. (wie)







Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda