Breaking News
Memuat breaking news...

Ekosistem Musik Medan Perlu Penguatan 'Storytelling

Redaksi
Redaksi
Minggu, 26 Juli 2026 - 8.06 PM WIB
9
Ekosistem Musik Medan Perlu Penguatan 'Storytelling
Foto bersama pendukung acara, setelah menuntaskan konser perdana mereka Sabtu (25/07) di Serayu Coffee Jalan Serayu Medan. beritasore.co.id/Ist
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (beritasore.co.id): Tri Harma Seorang pegiat industri kreatif Medan yang sebelumnya sempat bekerja di rumah produksi milik Pay Burman (BIP) menilai ekosistem musik dan hiburan di Medan mulai menunjukkan geliatnya dalam beberapa tahun terakhir.

Ia membandingkan dengan Jakarta, di mana ekosistem antara media, penyelenggara event, dan musisi sudah berjalan dengan baik dan saling mendukung."Kalau di Medan, setelah COVID ini baru mulai ramai lagi. Ada konser kecil, band-band mulai manggung, animonya mulai ada. Teman-teman musisi juga mulai produktif berkarya," ujarnya.

Namun ia menyoroti satu hal yang masih menjadi catatan. Menurutnya, pengemasan saat penampilan di atas panggung di Medan belum dimaksimalkan. Di Jakarta, musisi sebelum membawakan lagu biasanya memperkenalkan judulnya dan menceritakan makna lagu tersebut. Jadi penonton tahu history-nya.

"Tapi di sini, kadang kita nonton tapi nggak tahu itu lagu apa, band-nya siapa. Lagu dibawakan begitu saja. Padahal kalau ada cerita di balik lagunya, penonton bisa lebih merasakan apa yang disampaikan," jelasnya saat penyelenggara "In Release' digelar di Serayu Coffee Sabtu (25/07) malam.

Didampingi Yogi Yuwasta selaku penyelenggara "In Release", ia menilai hal ini mungkin terjadi karena faktor kebiasaan dan ekosistem yang belum sepenuhnya terbentuk di Medan. Meski begitu, ia optimis ke depan industri kreatif di Medan akan terus berkembang.Lagu dibawakan begitu saja tanpa ada obrolan atau cerita di dalamnya.

Padahal kalau penonton tahu cerita di balik lagu itu, mereka akan lebih bisa merasakan dan menikmati penampilannya.mMungkin ini faktor kebiasaan. Ekosistemnya di sini belum terbentuk seperti di sana. Tapi saya yakin, pelan-pelan kita bisa ke arah situ."jelasnya.

Sementara Yogi menambahkan, acara ini rencananya akan digelar tiap bulan dua kali dengan menampilkan talent-talent muda berbakat kota Medan. Dia berharap karya anak-anak band Medan bisa lebih dihargai lewat panggung-panggung 'GIGS' yang mereka buat.

Dia mengakui banyak karya anak band Medan yang bagus-bagus, tapi sayangnya kurang terangkat ke kancah nasional bahkan di kotanya sendiripun kurang dikenal. "Disinilah lewat gagasan acara ini kami ingin memperkenalkan mereka dan bisa menjadi wadah buat band-band Medan berkarya serta memperkenakan grup bandnya", ujarnya.

Yogi berharap langkah awal pagelaran "In Release" bisa menjadi jembatan antara kalangan musisi maupun para pekerja panggung hiburan seperti Event Orginizer, tempat-tempat hiburan agar memberdayakan band-band lokal serta adanya dukungan pemerintah daerah agar memberi ruang buat seniman-seniman berkarya dengan menyertakan mereka dalam setiap kegiatan seni.

Pada pagelaran perdana di Serayu Coffee tampil tiga grup band masing-masing 'Merahati', 'Flower Child' dan 'Brutal Pop' membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri dengan berbagai genre mulai pop, sampai rock alternative cukup menggetarkan suasana, walaupun udara kota Medan sedikit agak dingin setelah diguyur hujan menjelang acara dimulai.(tjn)

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait