Dari 'Profesor Berita' ke Guru Besar, Anang Anas Azhar Resmi Dikukuhkan di UINSUDari 'Profesor Berita' ke Guru Besar, Anang Anas Azhar Resmi Dikukuhkan di UINSU

MEDAN (beritasore.co.id): Perjalanan panjang dari dunia jurnalistik ke puncak akademik akhirnya ditapaki Prof. Dr. Anang Anas Azhar, S.Ag., M.A. Sosok yang dulunya dijuluki 'Profesor Berita' itu kini resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Komunikasi Politik Islam di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Rabu (22/4/2026).
Pengukuhan dilakukan dalam Sidang Senat Terbuka di Gelanggang Mahasiswa H.M. Arsjad Thalib Lubis, kampus Jalan IAIN/Sutomo Medan, dipimpin Ketua Senat Prof. Pagar Hasibuan dan didampingi Rektor UINSU Prof. Nurhayati.
Prof. Anang merupakan satu dari 14 guru besar UINSU yang dikukuhkan pada hari tersebut.
Dalam pidato pengukuhannya bertajuk “Pencitraan Politik Islam: Memadukan Konsep dan Aplikasi Kampanye Politik Ala Islam”, Prof. Anang membahas fenomena politik pencitraan dalam sistem demokrasi modern.
Ia menyampaikan pencitraan merupakan bagian yang tidak terelakkan, namun harus dibangun berdasarkan integritas, bukan rekayasa persepsi.
Menurut dia, komunikasi politik dalam perspektif Islam terikat pada prinsip moral, kejujuran, dan tanggung jawab.
Ia menegaskan setiap pesan politik harus lurus, benar, dan tidak menyesatkan.
Ia juga menyebut politik dalam Islam bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan bentuk pengabdian, dengan reputasi pemimpin lahir dari konsistensi akhlak.
Dalam pidatonya, Prof. Anang menyampaikan tiga gagasan utama. Pertama, menggeser makna pencitraan dari simbol ke akhlak, dengan menekankan nilai kejujuran, keadilan, dan amanah dalam praktik politik.
Kedua, menempatkan ulama sebagai penjaga etika, bukan sekadar alat legitimasi kekuasaan.
Ketiga, mendorong kampanye berbasis maslahat, bukan kultus figur, dengan fokus pada agenda keumatan dan kebangsaan.
Prof. Anang lahir di Desa Tebing Linggahara, Labuhanbatu, 4 Oktober 1974. Ia menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah di Rantau Prapat, sebelum melanjutkan studi di UINSU hingga jenjang doktor.
Sebelum berkarier sebagai akademisi, ia pernah menjadi wartawan dan memiliki sertifikat Uji Kompetensi Wartawan Utama dari Dewan Pers.
“Dulu mereka memanggil saya profesor karena banyaknya berita yang saya tulis. Hari ini, saya menjadi profesor sesungguhnya,” ujarnya.
Selain itu, ia juga pernah aktif sebagai aktivis dan politisi, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, yang memperkaya perspektifnya dalam bidang komunikasi politik.
Sebagai dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU, ia telah menghasilkan ratusan tulisan opini serta sejumlah buku terkait komunikasi politik, politik Islam, dan kebijakan publik.
Suami Evi Sakdiah S.Ag, M.Sos dan ayah empat putra -- M Choirur Rais Alvizar (25), M Hafiz Alvizar (21), M Tahfif Alvizar (19) dan M Fikri Rizki Alvizar (16) -- ini
juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai forum, termasuk diskusi penyusunan Indeks Demokrasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik Sumatera Utara.
Di kampus, ia mengemban tugas sebagai Wakil Dekan III FDK UINSU periode 2023–2027, sekaligus mengajar di berbagai jenjang, termasuk pascasarjana.
Pengukuhan guru besar tersebut menandai capaian akademik sekaligus tanggung jawab dalam pengembangan ilmu dan kontribusi terhadap masyarakat, khususnya dalam penguatan etika komunikasi politik. (aje)







Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda