Dari Limbah Sawit, Asian Agri Buat Energi Bersih Pembangkit Listrik BiogasDari Limbah Sawit, Asian Agri Buat Energi Bersih Pembangkit Listrik Biogas

SATU pohon kelapa sawit semuanya berguna dan bisa difungsikan, tidak ada satupun elemennya yang dibuang percuma. Turunan produksinya banyak dan semua dapat digunakan.
Seluruh bagian tanaman, mulai dari buah, biji, pelepah, tandan kosong, hingga batang, dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Tak heran jika tanaman kelapa sawit disebut juga sebagai tanaman Zero Waste atau tanaman tanpa limbah karena seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia dan diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Tanaman kelapa sawit juga merupakan bagian penting dalam pengembangan ekonomi hijau dan berkelanjutan.
1. Daging dan Inti Buah Sawit
Daging buah kelapa sawit dan bijinya dapat diolah menjadi crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO).
Kedua produk utama tersebut berperan sebagai bahan baku strategis bagi berbagai industri, antara lain industri pangan, sebagai bahan utama dalam produksi minyak goreng, margarin, dan produk turunan lainnya.
Industri toiletries dan kebersihan, seperti sabun dan deterjen; industri kosmetik, sebagai bahan baku produk perawatan kulit dan kecantikan. Industri energi, khususnya dalam produksi biofuel atau bioenergi yang mendukung transisi menuju energi terbarukan.
2. Cangkang Sawit (Palm Oil Shell)
Cangkang sawit yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah yang memberikan kontribusi positif terhadap transisi energi terbarukan sekaligus mendukung pengembangan industri material modern.
Pemanfaatan cangkang sawit meliputi bahan bakar boiler di pabrik kelapa sawit yang mendukung efisiensi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil; bahan campuran beton dan material bangunan. Sehingga mendukung prinsip konstruksi berkelanjutan; bahan baku biobriket dan biopellet yang berperan sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan; bahan elektroda untuk superkapasitor dan filter udara.
3. Tandan Kosong Kelapa Sawit (Empty Fruit Bunch)
Tandan kosong kelapa sawit memiliki potensi besar sebagai sumber energi dan bahan baku ramah lingkungan. Limbah ini dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari benang rayon, jaket anti-peluru, hingga produk otomotif.
Adapun produk turunan lain yang dapat dihasilkan dari pengolahan tandan kosong kelapa sawit meliputi pupuk organik yang berperan dalam mendukung pertanian berkelanjutan; bioetanol dan bio-crude oil yang berfungsi sebagai sumber energi terbarukan pengganti bahan bakar fosil. Arang briket, biopellet, dan bio-BTX (senyawa aromatik); bioplastik, paper bag, dan kemasan produk. Semuanya mendukung pengembangan material ramah lingkungan; pakan ternak, dan media tanam jamur.
4. Pelepah Sawit (Palm Oil Fronds)
Pelepah kelapa sawit memiliki beragam fungsi praktis yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemanfaatan pelepah sawit tersebut mencakup pupuk organik yang berperan dalam mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Bioetanol dan biocrude oil yang berpotensi menjadi sumber energi terbarukan; arang briket yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Kerajinan tangan anyaman seperti piring, tas, peralatan rumah tangga, hingga lampu yang bernilai ekonomi dan mendukung penerapan ekonomi sirkular; pakan ternak.
5. Batang Sawit (Palm Oil Trunk)
Saat siklus masa produktif pohon kelapa sawit berakhir, batangnya tetap memiliki nilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi.
Pemanfaatan batang kelapa sawit tersebut meliputi produk olahan kayu dan furniture; material konstruksi yang ramah lingkungan. Gula merah sawit yang berpotensi menjadi alternatif pemanis alami; bioetanol yang berfungsi sebagai sumber energi terbarukan; bahan baku pulp dan kertas.
Jadi tanaman kelapa sawit merupakan bagian penting dalam pengembangan ekonomi hijau dan berkelanjutan. Sebagai tanaman nihil limbah, kelapa sawit tidak hanya berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular di Tanah Air.
Untuk CPO sendiri juga memiliki banyak turunan seperti minyak goreng, margarin, mentega putih (shortening), dan krimer nabati. PKO (Palm Kernel Oil) yakni minyak inti sawit yang diekstraksi dari biji. Turunan PKO: bahan baku industri oleokimia, deterjen, kosmetik, sabun, dan pelumas.
Dari proses pengolahan TBS menjadi minyak sawit mentah (CPO) dihasilkan limbah cair yang disebut Palm Oil Mills Effluent (POME)
Limbah ini berasal dari tahapan klarifikasi, sterilisasi, dan hidroklon, yang mengandung sisa minyak dan padatan organik.
Proses sterilisasi (perebusan): Kondensat yang dihasilkan saat TBS direbus dengan uap panas. Proses klarifikasi (pemurnian), air sisa pemisahan minyak dari kotoran atau lumpur (sludge) dalam tangki klarifikasi.
POME berbentuk cairan kental berwarna cokelat keabu-abuan, bersuhu tinggi
POME berbentuk cairan kental berwarna cokelat keabu-abuan, bersuhu tinggi 60 - 80 derajat Celsius dan memiliki i pH asam 4,0 - 5,0. Jadi Limbah ini memiliki kandungan senyawa organik tinggi yang umum diolah menjadi biogas (energi terbarukan) atau pupuk organik.
Namun limbah POME perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan karena memiliki kandungan senyawa organik tinggi yang umum diolah menjadi biogas (energi terbarukan) atau pupuk organik.
Sejumlah wartawan berkesempatan melihat langsung salah satu Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) Gunung Melayu Satu (PGS) PT Saudara Sejati Luhur, dan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) atau biogas power plant) kapasitas 1200 kWh, salah satu pabrik dan PLTBg di bawah bendera Asian Agri di Air Batu, Asahan Selasa, 5 Mei 2026.
"Tidak ada yang terbuang dari satu pohon kelapa sawit. Semua dapat digunakan," kata
Prama Yudha Amdan, Head of Corporate Communications Asian Agri kepada wartawan Selasa, 5 Mei 2026 mengawali kunjungan ke sana
Yudha ada di sana bersama stafnya dari Medan Lidya Veronica. Dia mengajak wartawan melihat proses TBS jadi CPO dan PKO. Sekaligus juga proses POME jadi biogas yang energi bersih dan ramah lingkungan.
Asian Agri menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit ramah lingkungan, bahkan tak ada sama sekali sampai ke lingkungan. Semua dapat dipakai kembali oleh pertumbuhan kelapa sawit itu sendiri. Ini sesuai ISPO dan RSPO.
Memang selama ini banyak tudingan miring kalau limbah sawit dapat mencemari lingkungan akibat polusi. Utamanya limbah cair POME tadi.
Kelapa sawit juga dituduh menyebabkan masalah lingkungan seperti emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang merupakan penyumbang utama pemanasan global dan perubahan iklim. Karbon dioksida dan gas metana adalah penyebab utama gas rumah kaca. Para pemangku kepentingan mengharapkan perusahaan untuk memonitor sumber gas rumah kaca dan menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi emisi tersebut.
Emisi terbesar dari gas rumah kaca adalah perubahan fungsi lahan dan limbah pabrik kelapa sawit (POME). Sedangkan kreditur terbesar dari gas rumah kaca adalah penyerapan tanaman, penangkapan gas metana dan pilihan energi terbarukan lainnya.
Tanah gambut adalah tanah organik dengan kandungan karbon yang tinggi di mana pada saat dikeringkan untuk pertanian akan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih tinggi. Namun, dengan Praktik Manajemen Terbaik (BMP), emisi tersebut dapat diminimalkan.
Asian Agri menyadari bahwa untuk meminimalisasikan emisi gas rumah kaca, maka harus menerapkan teknologi masa depan dalam menjalankan praktik-praktik perkebunan terbaik. Oleh karena itu, Asian Agri telah terlebih dahulu mengidentifikasi sumber terbesar emisi gas rumah kaca dan penyerapan karbon dalam operasionalnya.
Kemudian mencoba berbagai metode yang layak untuk mencapai tujuan tersebut.
Salah satu pendekatan yang diadopsi oleh Asian Agri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca adalah instalasi pembangkit listik tenaga biogas (PLTBg) dengan teknologi penangkapan gas metana. Saat ini sudah ada 11 PLTBg Asian Agri yang tersebar di tiga provinsi (Sumatera Utara, Jambi dan Riau).
POME memang limbah cair hasil pengolahan buah kelapa sawit yang volumenya sangat besar, di mana setiap 1 ton minyak sawit menghasilkan sekitar 2,5 \(m^{3}\) POME.
Secara ekologis, POME dituding menjadi sumber pencemaran berat jika tidak diolah dengan benar. Polutan Tinggi: POME mengandung bahan organik tinggi, padatan tersuspensi, serta nilai Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) yang tinggi. Pembuangan langsung POME ke sungai menyebabkan pencemaran ekstrem, mengubah warna air menjadi coklat, dan merusak ekosistem perairan.
Limbah ini berpotensi menimbulkan bau menyengat dan mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. Padahal jika diolah, POME memiliki potensi energi bersih yang tinggi, namun di Indonesia pengelolaannya belum optimal.
POME dapat diolah menjadi biogas (methane capture) untuk pembangkit listrik atau bahan bakar, yang membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Apalagi pabrik menerapkan sistem pengolahan ramah lingkungan.
Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PlTBg Gunung Melayu Satu berdiri sejak tahun 2013 dan mulai beroperasi tahun 2015. Letak PLTBg itu satu lokasi dengan PMKS Gunung Melayu Satu. Pembangunan PLTBg memang diprioritaskan berada di pabrik kelapa sawit untuk memudahkan bahan baku.
Sedangkan PMKS Gunung Melayu Satu telah dibangun tahun 1985 dan operasional mulai tahun 1987 dengan kapasitas 60 ton per hour (TPH) atau ton per jam. Sedangkan PLTBg dibangun tahun 2013 dan mulai beroperasi tahun 2015 dengan kapasitas energi bersih listrik sebesar 1.200 kWh.
Selama operasionalnya, PLTBg Asian Agri itu memanfaatkan limbah organik dari proses produksi minyak sawit POME untuk memperoleh energi bersih, terbarukan yang digunakan buat operasi pabrik dan masyarakat lokal serta membantu mengurangi emisi.
"Saat ini energi bersih listrik biogas yang dihasilkan masih untuk operasional pabrik," kata Immanuel Josluis Panjaitan, Director's Authorized Representative PMKS Gunung Melayu Satu. Saat itu Immanuel didampingi Marthin Luther Limbong, Regional Mill Controler (RMC) Region 1 Asian Agri.
Immanuel menyebut proses biogas dari POME adalah solusi waste to energy yang mengubah limbah berbahaya menjadi sumber energi terbarukan. Dengan teknologi anaerobik digestion, pemurnian gas, dan pembangkit listrik, pabrik kelapa sawit dapat transformasi limbah menjadi energi bersih untuk masa depan yang berkelanjutan.
'Keuntungannya lagi, PLTBg dapat mengurangi jejak karbon, menurunkan biaya operasional dan berkontribusi pada keberlanjutan," jelas Immanuel.
PLTBg dibangun di area pabrik minyak sawit untuk memudahkan kesiapan bahan baku utama yang berasal dari biomassa sisa proses produksi yang dikenal dengan nama Palm Oil Mill Effluent (POME) tadi. Sebelum PLTBg dibangun, POME dimanfaatkan untuk pupuk cair dan menjaga kelembaban tanah untuk mencegah erosi tanah.
Di PLTBg, POME ditempatkan di dalam tanki digester, yang diubah menjadi gas methane dengan menambahkan bakteri. Gas ini yang kemudian dikirim ke PLTBg, yang menghasilkan tenaga listrik sebesar 1.200 kWh di PMKS Gunung Melayu Satu.
Dalam prosesnya, biogas yang telah dimurnikan dibakar dalam generator gas untuk menghasilkan listrik buat operasional pabrik. Membakar gas berlebih dengan aman, mengurangi emisi gas methane ke atmosfer.
Gas methane jauh lebih bersih dibandingkan batubara atau minyak fosil lainnya sehingga PLTBg membawa dampak besar bagi lingkungan serta mengurangi emisi di pabrik kelapa sawit dengan penggunaan PLTBg hingga 60 persen.
PLTBg iin juga bentuk nyata dukungan Asian Agri untuk membantu program pemerintah Indonesia yang berencana meningkatkan kelistrikan, diantaranya berasal dari sumber daya terbarukan. Rencana pemerintah tersebut merupakan respon dari kelangkaan listrik seiring naiknya pertumbuhan permintaan listrik.
Pada September 2017 Asian Agri berhasil meraih Anugerah Energi Lestari Award 2017 sebagai bentuk pengakuan atas komitmennya dalam memproduksi energi bersih dari limbah organik. Pada bulan November 2017 mendapatkan Platinum Award untuk kategori Environmental Management Program pada perhelatan Indonesia CSR Awards 2017.
Yudha menyebut Asian Agri membangun PLTBg mendukung tujuan pembangunan nasional dan internasional. Meningkatkan produksi listrik turut membantu mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang diluncurkan PBB, khususnya SDG 9 yang menyerukan pertumbuhan industri melalui inovasi dan infrastruktur. Serta SDG 7 yang bertujuan untuk menyediakan akses pada energi bersih dan terjangkau.
Gas methane jauh lebih bersih dibandingkan batubara atau minyak fosil lainnya sehingga PLTBg membawa dampak besar bagi lingkungan serta mengurangi emisi di pabrik kelapa sawit dengan penggunaan PLTBg hingga 60 persen. Pada tahun 2020, Asian Agri memasang fasilitas penangkap methane di pabrik untuk semakin mengurangi emisi.
Asian Agri juga telah berpartisipasi dalam berbagai organisasi untuk menentukan metodologi menghitung Gas Rumah Kaca (GRK) melalui Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Pada 12 Maret 2026, Asian Agri melalui PT Saudara Sejati Luhur, PMKS Gunung Melayu Satu meraih sertifikat RSPO 620755 untuk Production and Management System dalam produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO).RSPO Biogas dinilai mampu mengurangi emisi GRK, pengelolaan limbah berkelanjutan dan efisiensi energy terbarukan.
ISPO: merupakan kebijakan yang ditetapkan Pemerintah Indonesia. Sifatnya wajib (mandatory) bagi pelaku usaha kelapa sawit di Indonesia dengan standar yang disesuaikan dengan hukum nasional. Sedangkan RSPO merupakan organisasi global yang bersifat sukarela (voluntary) dengan standar keberlanjutan yang berlaku di pasar internasional. (Laswiyati Wakid)







Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda