LANGSA (beritasore.co.id): Himpunan Mahasiswa Biologi (Himabio) Universitas Samudra melakukan penerapan Smart Integrated Farming System melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026 di Desa Meurandeh, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa.

Program yang dilaksanakan sejak awal Februari 2026 diinisiasi Ormawa Himabio mengusung judul “Penguatan Ketahanan Pangan Pascabanjir melalui Penerapan Smart Integrated Farming System (SIFS) di Desa Meurandeh, Kota Langsa” dan melibatkan 51 mahasiswa lintas prodi (Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi, serta Prodi Agroteknologi dan Agribisnis Fakultas Pertanian) untuk memperkuat pemulihan produksi pangan serta ekonomi hijau berbasis zero waste.
Ketua program, Zidni Ilman Navia, S.Si., M.Si kepada wartawan, Rabu (04/03/2026) mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak 2026: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra yang diselenggarakan dan didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, dengan mekanisme pengelolaan program melalui sistem BIMA.
Dijelaskannya, kegiatan menyasar dua kelompok produktif di Desa Meurandeh, yakni Kelompok Ternak Suka Jadi (Ketua: Tukijo) dan Kelompok Tani Tani Jaya (Ketua: Nurlelawan) dengan dukungan pemerintah desa melalui Pj Geuchik Desa Meurandeh, Risdianto.
“Pascabanjir, masyarakat menghadapi tantangan pemulihan input produksi—mulai dari pakan ternak yang terbatas, pengelolaan limbah ternak yang belum optimal, hingga sektor pertanian yang rentan genangan dan membutuhkan input organik yang stabil,” sebutnya.
Menurut Zidni Ilman Navia, S.Si., M.Si bahwa pendekatan SIFS dirancang mengintegrasikan hulu–hilir dalam satu alur.
“Di hulu, kami mendorong ketahanan pakan melalui pembuatan silase serta mengolah limbah ternak menjadi kompos padat dan pupuk organik cair (POC). Di hilir, kami membangun budidaya sayuran cepat panen yang adaptif genangan melalui bedengan bertingkat/tinggi dan bank bibit. Prinsipnya zero waste: input organik dari hulu memperkuat budidaya hilir, sementara residu tanaman kembali dikelola sebagai bahan organik,” jelasnya.
Anggota tim dosen Ir. Adnan, MP menambahkan bahwa program menekankan pendampingan teknis berbasis praktik.
“Pelatihan tidak berhenti pada teori. Masyarakat dilibatkan dalam praktik pembuatan pakan fermentasi, pengolahan kompos/POC, dan perbaikan teknis budidaya adaptif genangan,” ujarnya.
Sementara Ir. Muhammad Jamil, M.MA. menekankan penguatan tata kelola usaha. “Kami memastikan setiap aktivitas memiliki bukti kerja: logbook produksi, catatan biaya–hasil, rekap mingguan, serta data baseline–endline agar dampak ekonomi dan keberdayaan mitra bisa diukur,” katanya.
Selain paket teknologi utama, program juga merespons kebutuhan masyarakat terkait pertanian organik. Tim telah melaksanakan pelatihan dan praktik langsung pembuatan pestisida nabati untuk mendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara ramah lingkungan dan memperkuat kualitas produksi sayuran organik cepat panen.
Pj Geuchik Desa Meurandeh, Risdianto menyampaikan apresiasi atas sinergi program dengan kebutuhan desa. “Kami berharap demplot dan SOP yang dibangun tidak berhenti pada kegiatan sebulan ini, tetapi bisa menjadi contoh dan diterapkan oleh warga lain,” ujarnya.
Sementara Ketua Kelompok Ternak Suka Jadi, Tukijo, menilai penguatan pakan dan pengolahan limbah menjadi kebutuhan mendesak pascabanjir. “Kalau pakan dan pupuk bisa lebih teratur, usaha ternak dan kebun warga bisa lebih kuat,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Kelompok Tani Tani Jaya, Nurlelawan menambahkan, bahwa budidaya adaptif genangan dan bank bibit membantu mempercepat pemulihan produksi. “Bibit ada, bedeng lebih aman, kami bisa tanam bertahap,” ujarnya.
Lebih lanjut Zidni Ilman Navia, S.Si., M.Si menambahkan, program Mahasiswa Berdampak 2026 ini dirancang partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pemetaan kebutuhan (PRA/FGD), pelatihan praktik, penerapan teknologi, pendampingan rutin, evaluasi capaian, serta serah kelola aset dan SOP kepada kelompok mitra.
“Dengan dukungan pendampingan penyuluh BPP Kecamatan Langsa Lama, Universitas Samudra menargetkan pemulihan ketahanan pangan yang adaptif bencana, terukur, dan replikatif di tingkat desa,” tutupnya. (wmi).















