KAIRO (beritasore.co.id): Para pemimpin di Timur Tengah pada Senin (9/3) mendesak upaya diplomatik untuk meredam eskalasi ketegangan di kawasan tersebut, seiring berlanjutnya serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang memicu serangan balasan.
Para pemimpin itu menyampaikan pernyataan tersebut melalui konferensi video dalam pertemuan darurat yang diadakan oleh Uni Eropa (UE) terkait perkembangan regional terkini, dengan dihadiri oleh para pemimpin dan pejabat dari negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), Yordania, Lebanon, Suriah, Turkiye, Irak, Armenia, dan Azerbaijan.
Dalam konferensi tersebut, Presiden Mesir Abdel-Fattah al-Sisi menekankan pentingnya semua pihak untuk menahan diri, berupaya meredam eskalasi, mengutamakan bahasa dialog, dan mendorong jalur diplomatik, menurut pernyataan dari Kepresidenan Mesir.
Sisi menekankan bahwa penyelesaian krisis dan konflik melalui jalur damai merupakan pilihan yang tepat untuk mencapai stabilitas dan keamanan yang diharapkan. Dia juga menegaskan perlunya penghentian segera “seluruh serangan” terhadap negara-negara Arab.
Raja Yordania Abdullah II menggarisbawahi pentingnya mengandalkan diplomasi dan dialog untuk meredam ketegangan yang kian meningkat di kawasan tersebut, menurut pernyataan dari Istana Kerajaan Yordania. Dia memperingatkan bahaya dari upaya memperluas konflik dengan “menargetkan” sejumlah negara Arab yang aman dan stabil.
Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Bahrain Salman bin Hamad Al Khalifa mengatakan Bahrain, negara-negara GCC, dan Yordania telah menghadapi serangan rudal dan drone yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Iran, seperti dilaporkan oleh Kantor Berita Bahrain.
Dia juga mengatakan masyarakat internasional perlu bertindak tegas untuk melindungi lalu lintas maritim internasional serta arus barang yang melintasi Selat Hormuz.
Pemimpin sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, mengatakan eskalasi ketegangan di Timur Tengah menimbulkan “ancaman eksistensial” bagi kawasan, dengan menyebut risiko terhadap stabilitas ekonomi global dan meningkatnya tekanan keamanan pada negara-negara tetangga, menurut kantor berita pemerintah Suriah, SANA.Al-Sharaa mengatakan Suriah terdampak langsung oleh gejolak regional ini karena letak geografisnya yang berada di antara beberapa front aktif, seraya menekankan bahwa Damaskus terus menentang apa yang dia sebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Arab.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah pejabat senior dan komandan militer, serta ratusan warga sipil.
Iran merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.(ant/Xinhua)















