MEDAN (beritasore.co.id): Pers Sumatera Utara (Sumut) kehilangan salah satu putra terbaiknya. H Soffyan bin Abdul Syukur, Sabtu (7/3) meninggal dunia dalam usia 89 tahun, dan dikebumikan Minggu (8/3) di TPU Kayu Besar Jalan MH Thamrin Medan.
Bagi insan pers di Medan, Sumut bahkan nasional, nama H Soffyan memang sudah tidak asing lagi. Hal ini karena, di masa hayatnya, lebih dari dari separuh usianya, ia berkecimpung di dunia jurnalistik.
Karier jurnalistiknya dimulai sejak tahun 1959 sebagai wartawan di Kantor Berita Antara. Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Cabang LKBN Antara di Medan. Selanjutnya sejak tahun 1972, H Soffyan menjabat Pemimpin Redaksi Harian Analisa hingga Tahun 2022.
“Banyak kenangan yang tidak terlupakan. Kami sangat terkesan dengan kepemimpinan beliau,” ujar H War Djamil SH yang meneruskan tongkat estafet dari almarhum H Soffyan memimpin Harian Analisa sejak empat tahun lalu.
War Djamil bersama Ketua PWI Sumut H Farianda Putra Sinik SE, saat melepas jenazah dari rumah duka di Jalan Sampali, Minggu kemarin, bahkan tak kuasa menahan tangis.
War Djamil juga menyampaikan bahwa edisi Sabtu (7/3) Harian Analisa dipersembahkan khusus untuk Bapak Soffyan yang selama 50 tahun memimpin redaksi surat kabar tersebut.
“Koran Analisa edisi Sabtu ini kami persembahkan untuk beliau yang selama 50 tahun bersama kami memimpin dan membimbing kami semua,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
“Pers Sumut kehilangan sosok panutan. Saya mengenal almarhum sejak saya masih kecil, karena beliau sahabat ayah saya H Ibrahim Sinik (pendiri dan pemilik Harian Medan Pos). Saya bisa menjadi Ketua PWI juga tidak terlepas dari bimbingannya” tambah Farianda dengan suara terisak.
Berbicara di harapan pentakziah termasuk Kepala LKBN Antara Sumut Irwan Arfa, Vice Consul Konsulat Jenderal Jepang di Medan Suzuki Yushi, Sekretaris PWI Sumut SR Hamonangan Panggabean, dan Wapemred I Harian Analisa yang juga Ahli Pers Rizal Rudi Surya, para tokoh masyarakat dan para pelayat lainnya, War Djamil mengenang momen terakhir saat menjenguk almarhum. Ketika itu, meskipun dalam kondisi sakit dan berada di kursi roda, almarhum masih menanyakan keadaan Harian Analisa.
Bahkan pada hari terakhirnya, almarhum masih sempat membaca Harian Analisa yang setiap pagi diantar khusus ke kediamannya. Sejak lama ia selalu mengikuti perkembangan koran yang ikut ia bangun sejak tahun 1972.
War Djamil juga mengisahkan karakter kepemimpinan almarhum yang sangat mengayomi para wartawan.
“Saya menyaksikan langsung bagaimana kepemimpinan beliau. Beliau mendidik wartawan dengan suasana kekeluargaan.
Jika ada wartawan yang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah memarahinya langsung. Biasanya beliau menugaskan staf untuk memanggil dan menjelaskan kesalahan tersebut,” tuturnya.
Dengan sendu dan menitikkan air mata, dia mengatakan almarhum dikenal sangat peduli terhadap pengembangan kualitas wartawannya.
Banyak wartawan Analisa yang mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dan perjalanan jurnalistik ke luar negeri berkat dukungannya.
“Beliau membuka hubungan baik dengan berbagai konsulat di Medan. Wartawan Analisa pernah berangkat ke Jepang, Malaysia, Singapura, Australia, Amerika dan berbagai negara lainnya. Semua itu karena beliau membuka jalur dan memberikan kesempatan,” ujarnya.
Menurut War Djamil, almarhum sangat ingin wartawan-wartawannya menjadi orang yang berpendidikan dan memiliki wawasan luas. Bahkan beberapa di antaranya berhasil melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar master dan doktor dengan dukungan beliau.
War Djamil kemudian memaparkan secara singkat riwayat almarhum di bidang pers.
Almarhum pernah menempuh pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara hingga tingkat sarjana muda.
Sepanjang kariernya, almarhum juga melakukan berbagai kunjungan jurnalistik ke luar negeri, antara lain ke Amerika Serikat sebanyak tiga kali, Eropa Barat, Eropa Timur, negara-negara Skandinavia, Australia, Selandia Baru, Jepang, Filipina, Malaysia, Singapura, India, dan Pakistan.
Ia juga pernah mengikuti pendidikan jurnalistik selama tiga bulan di International Institute of Journalism Berlin, Jerman, dan memperoleh sertifikat di bidang pers.
Sejumlah penghargaan juga diterima almarhum. Pada tahun 1983 ia memperoleh Mitsui Award dari Asian Press Foundation (APF) di Manila.
Kemudian pada tahun 1989 menerima penghargaan dari PWI Pusat sebagai tokoh pers yang mengembangkan Pers Pancasila.I a juga mendapat penghargaan dari Kodam I/Bukit Barisan.
Almarhum menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak tahun 1969 hingga akhir hayatnya. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PWI Sumatera Utara.
Sementara itu, Ketua PWI Sumut, Farianda Putra Sinik SE mengaku kehilangan sosok Soffyan yang merupakan panutan sekaligus sahabat Almarhum ayahandanya.
“Om Soffyan adalah tokoh pers yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pers, baik di Sumatera Utara maupun di tingkat nasional. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi kita semua.
Dalam dua bulan terakhir ini, kita telah kehilangan dua tokoh pers. Kemarin Bang Besihar Lubis dan hari ini Om Soffyan. Ini tentu menjadi duka yang sangat mendalam bagi keluarga besar pers, khususnya PWI Sumatera Utara,” ungkapnya.
“Saya mengenal Om Soffyan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Anak-anak beliau pun berteman dengan kami. Sosoknya sangat sederhana dan bersahaja.
Jika melihat kantornya, orang mungkin membayangkan kehidupannya sangat besar. Namun ternyata beliau adalah pribadi yang sangat sederhana, lembut, selalu tersenyum, dan suka bercanda,” ujarnya.
“Bagi saya, beliau bukan sekadar senior, tetapi sudah seperti orang tua sendiri, bahkan menggantikan sosok ayah bagi saya.
Sekali lagi, PWI Sumatera Utara kehilangan tokoh senior, orang tua, dan panutan bagi kami semua. Kini yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan mendoakan beliau serta keluarganya,” ujar Farianda. Selamat jalan Pak Soffyan…! (rel)















