RI Masuk Lima Besar Negara Eksportir Besi – Baja Dunia

  • Bagikan
Menteri Perdagangan Budi Santoso (tengah), Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza (kanan), Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri (kiri) dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (4/2). (ant)

JAKARTA (beritasore.co.id): Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) mengatakan Indonesia masuk lima besar negara eksportir besi dan baja dunia, setelah adanya kebijakan pemerintah dalam hilirisasi sebagai langkah meningkatkan nilai tambah dan daya saing global.

“Pada tahun 2019, Indonesia masih menempati peringkat ke-17 sebagai negara eksportir besi dan baja terbesar di dunia,” kata Mendag dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (4/2).

Selanjutnya, melalui upaya hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri, Indonesia kini melompat jauh ke peringkat lima sebagai negara eksportir besi dan baja terbesar di dunia.

Dalam peringkat terbaru, empa negara di atas Indonesia adalah China peringkat pertama, Jerman kedua, Jepang ketiga, dan Korea Selatan keempat.

“Indonesia kini melompat jauh ke peringkat lima sebagai negara eksportir besi dan baja terbesar di dunia,” ujar Mendag.

Ia menyebutkan pada tahun 2024, neraca perdagangan besi dan baja (HS 72) Indonesia mencatatkan surplus sebesar 15,08 miliar dolar AS yang berasal dari nilai ekspor sebesar 25,80 miliar dolar AS dan nilai impor sebesar 10,73 miliar dolar AS.

Lalu pada tahun 2025 neraca perdagangan besi dan baja Indonesia mencatatkan surplus yang meningkat menjadi 18,44 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Surplus tersebut didorong nilai ekspor sebesar 27,97 miliar dolar AS. Sementara nilai impor tercatat sebesar 9,53 miliar dolar AS.

“Pencapaian neraca perdagangan yang surplus konsisten ini selaras dengan peningkatan posisi Indonesia di kancah perdagangan global,” jelasnya.

Kementerian Perdagangan mencatat perkembangan kinerja ekspor dan impor besi dan baja Indonesia selama enam tahun terakhir.

Pada tahun 2020 nilai ekspor besi dan baja mencapai 10,86 miliar dolar AS, sedangkan impor 4,01 miliar dolar AS; di 2021 nilai ekspor komoditi itu naik menjadi 20,93 miliar dolar AS dengan impor mencapai 8,97 miliar dolar AS.

Selanjutnya pada 2022, nilai ekspor besi dan baja Indonesia mencapai 27,80 miliar dolar AS dengan impor 13,87 miliar dolar AS; di 2023 nilai ekspor komoditi itu turun tipis menjadi 26,70 miliar dolar AS dengan impor 15,30 miliar dolar AS.

Kemudian pada 2024, nilai ekspor kembali turun tipis menjadi 25,80 miliar dolar AS dengan impor 15,08 miliar dolar AS; lalu pada 2025 nilai ekspor besi dan baja Indonesia kembali naik menjadi 27,97 miliar dolar AS dengan impor 18,44 miliar dolar AS.

Di tempat yang sama, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyampaikan volume ekspor baja Indonesia melonjak dari 9,3 juta ton pada 2020 menjadi 23,97 juta ton pada 2025.

Ia mengatakan lonjakan itu mencerminkan penguatan kapasitas produksi serta meningkatnya daya saing industri baja domestik di pasar global.

Di sisi lain, impor baja yang sempat meningkat hingga 17,9 juta ton pada 2022, berangsur menurun menjadi 14,8 juta ton pada 2025.

“Perkembangan ini menyebabkan pergeseran neraca perdagangan dari kondisi defisit menuju surplus yang mencapai 18,09 juta ton,” katanya.

Faisol mengatakan tren surplus itu tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah, peningkatan produksi dalam negeri, faktor harga global, serta perubahan rantai pasok akibat tekanan geopolitik.

Melalui upaya hilirisasi dan peningkatan kapasitas industri, Indonesia kini melompat jauh ke peringkat lima sebagai negara eksportir besi dan baja terbesar di dunia. (ant)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *