MEDAN (beritasore.co.id): Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyatakan mundur pada perdagangan pagi akhir pekan.
Sikap kesatria tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak di pasar modal dalam dua hari terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun hingga ke level 8.167 sesaat setelah pembukaan langsung berbalik dan sempat menyentuh level tertingginya 8.408.
Sebelum akhirnya IHSG ditutup menguat 1,18 persen di level 8.329,606. Sisi positif yang bisa diambil dari pengunduran diri ini adalah Presiden mengarahkan agar dana alokasi fund manager (dana pensiun dan asuransi) dinaikkan hingga 20 persen di pasar saham.
“Arahan ini menunjukan pemerintah memahami resiko dan diingatkan bahwa ekonomi harus juga didorong dari sisi pasar modalnya,” kata Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi Sumatera Utara kepada wartawan Jumat (30/1/2026).
“Dan tidak harus melulu dari sektor rilnya saja. Karena jika terjadi tekanan pada pasar modal di tanah air, maka pada dasarnya akan berpotensi memicu terjadinya kapital outflow,” terang Gunawan lagi
Neraca pembayaran Indonesia berpeluang alami tekanan, dan tentunya berpeluang memicu terjadinya koreksi pada mata uang Rupiah. Dan yang paling buruknya pelemahan Rupiah akan turut memicu gangguan terhadap sektor ril.
Multiplier efeknya bisa menjalar ke masalah gangguan serapan tenaga kerja. Dan efek dari tekanan di pasar keuangan, sekalipun tidak berdampak instan ke sektor ril pada hari yang sama. Namun jika dibiarkan impak tekanan ke sektor ril akan terakumulasi dan potensial memicu kompleksitas masalah ekonomi yang lebih rumit.
Sementara itu, kinerja mata uang Rupiah pada perdagangan hari ini ditransaksikan melemah ke level 16.780 per dolar AS. Sejumlah sentimen yang ada di pasar keuangan menunjukan bahwa dolar AS tengah dalam posisi yang cukup kuat untuk menekan kinerja mata uang rivalnya.
Terpisah harga emas dunia ditransaksikan melemah dan bertahan dikisaran angka $5.100 per ons troy. Kenaikan yang cukup signifikan pada perdagangan sebelumnya hingga sempat menembus level psikologis $5.500, tentunya memang sangat menggiurkan bagi investor untuk melakukan aksi profit taking. Namun harga emas masih memiliki peluang untuk menguat.
Gunawan menilai ketidakpastian geopolitik dengan tensi yang terus meningkat belakangan ini, akan menjadi katalis positif bagi penguatan harga emas.
Terlebih lagi arah kebijakan suku buinga acuan Bank Sentral AS (The Fed) diproyeksikan akan turun. Dan tidak semata-mata karena data yang mendukung penurunan tersebut, tetapi lebih dikarenakan tekanan yang dilakukan Presiden AS ke Bank Sentralnya. (wie)















