MEDAN (beritasore.co.id) : Solidaritas, IKAL 91 SMPN 12 dh 10 Medan, Medan, Menyapa, Aceh Tamiang ): Lumpur telah mengeras, rumah-rumah hilang, dan kehidupan warga Dusun Tanjung Mulia, Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, seketika berubah setelah banjir bandang menerjang akhir November lalu.
Di tengah upaya bertahan dan menata ulang harapan, IKAL (Ikatan Alumni) 91 SMPN 12 dh 10 Medan hadir menyalurkan bantuan logistik sebagai wujud solidaritas bagi korban bencana. Bantuan tersebut dihimpun dari para alumni yang bergotong royong mengumpulkan kebutuhan mendesak bagi korban bencana.
Berbagai kebutuhan pokok disalurkan, mulai dari lilin, beras, ikan sarden, air minum kemasan, mi instan, telur rebus, jilbab, pakaian layak pakai, terpal, hingga Al-Qur’an dan mesin genset. Bantuan itu diperuntukkan bagi sekitar 135 kepala keluarga di dusun tersebut.
Penyerahan bantuan dilakukan oleh Pembina IKAL 91 SMPN 12 dh 10 Medan Ray Anson, bersama Ketua Harian Rudi Helmiawan, dan Bendahara Rachmiati (Mimi). Mewakili Ketua Umum IKAL 91 Irwandi Lubis, Rudi Helmiawan berharap bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban warga.
“Semoga bantuan ini bermanfaat dan bisa membantu kebutuhan sehari-hari warga yang terdampak banjir bandang,” ujarnya.
Sementara itu, Ray Anson menyampaikan apresiasi kepada seluruh alumni yang telah berpartisipasi. Menurut dia ikatan alumni bukan sekadar ajang temu kangen dan hura-hura, melainkan ruang untuk menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.
“Kami bersyukur silaturahmi yang terjalin selama ini melahirkan kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah. Bantuan ini memang tidak besar, tapi setidaknya menjadi tanda bahwa mereka tidak sendiri,” tutur Ray.
Bantuan tersebut diterima secara simbolis oleh Sarno, Wakil Ketua Badan Kenaziran Masjid Al Falah Lorong Pinggir, Desa Kaloy. Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan para alumni. Mewakili warga, ia mengaku senang mendapat bantuan mesin genset.
“Terima kasih atas bantuannya. Doakan kami bisa segera pulih dan menata kembali kehidupan di dusun ini,” ucap Sarno.
Menurut dia proses pemulihan pascabanjir bandang diperkirakan membutuhkan waktu panjang. Ia berkaca pada peristiwa banjir bandang yang pernah melanda wilayah itu pada 2006 silam.
“Untuk memulihkan kondisi dusun ini, mungkin butuh waktu setidaknya satu tahun. Soal ekonomi, saya pun belum tahu kapan benar-benar bisa pulih,” katanya.
Meski tidak ada korban jiwa, dampak banjir bandang kali ini tergolong parah. Sejumlah rumah warga rusak berat, bahkan ada yang hanyut dan tertimbun lumpur yang mengeras, sehingga tak lagi layak huni.
Beberapa warga seperti Wak Jumin, Kak Keling, Lena, Yuni, dan Bang Black kehilangan rumah sepenuhnya. Tak ada yang tersisa, karena rumah mereka tertimbun di balik lumpur yang mengeras menjadi tanah. Rumah Nek Sugini juga terlihat hampir rata dengan tanah.
Siti (50), salah seorang warga, mengaku banjir kali ini jauh lebih dahsyat dibanding peristiwa serupa pada 2006.
“Waktu itu rumah kami tidak sampai hancur. Sekarang airnya melewati atap seng,” tuturnya.
Warga lainnya, Susi, mengatakan rumahnya masih bisa ditempati meski dapurnya rusak parah. Namun, rumah ibunya rusak berat, bahkan rumah kakaknya hilang terseret banjir.
Beruntung, warga sempat menyelamatkan diri dengan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Meski tak menyangka banjir akan separah itu, tanda-tanda bahaya sudah mereka rasakan sejak hujan turun tanpa henti.
“Sejak Selasa hujan terus, Rabu seharian hujan. Kami mulai bersiap mengungsi. Banjir bandang dengan arus sangat deras datang Kamis, 27 November,” kenang Siti.
Aksi kemanusiaan IKAL 91 SMPN 12 dh 10 Medan ini menjadi secercah harapan di tengah duka warga Aceh Tamiang, sekaligus pengingat bahwa solidaritas sosial masih tumbuh dan hidup di tengah masyarakat. (aje)















